Dibalik Suatu Bencana Geologi

Jika kita mengamati alam dan lingkungan dengan seksama, maka akan dengan mudah kita pahami bahwa alam dilengkapi dengan seperangkat mekanisme hukum alam yang membuat alam itu sendiri dapat tetap lestari. Jika pada suatu tempat terjadi proses alamiah yang bersifat konstruktif, maka di bagian lain akan ada proses yang bersifat destruktif. Jika di suatu bagian terjadi peningkatan tekanan, maka di bagian lain akan terjadi proses pelepasan tekanan. Jika di suatu cekungan terjadi sedimentasi, maka di punggungan lain akan terjadi erosi. Begitu seterusnya hingga bumi terus mengalami proses penyeimbangan. Begitu pula dengan mekanisme bencana. Bencana alam merupakan salah satu mekanisme alamiah yang bertujuan untuk menyeimbangkan kondisi bumi, agar tetap lestari.

Sama juga dengan alam yang mencoba mempertahankan kondisi idealnya, manusia pun begitu. Manusia dilengkapi dengan naluri bertahan diri, mempertahankan eksistensi dirinya. Maka manusia merespon mekanisme alamiah ini dengan mengobservasi dan berusaha memprediksi saat terjadinya bencana alam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Zhang Heng, ilmuwan hebat dari Dinasti Han di Cina, pada 132 M ketika merancang suatu alat yang menjadi cikal bakal seismograf, yang ia gunakan untuk mengamati pergerakan gempabumi. Hasil observasi tersebut kemudian dijadikan landasan untuk memprakirakan kemungkinan lokasi terjadinya gempabumi di masa yang akan datang.

Berbagai macam data pengamatan bencana alam dijadikan referensi untuk memprediksi datangnya bencana alam. Mulai dengan mengamati secara subyektif dengan panca indera manusia, hingga di masa kini dengan data yang direkam oleh satelit, yang mampu mengumpulkan data kondisi atmosfer hingga pergerakan lempeng tektonik. Begitupun yang dilakukan oleh Kongres AS pada 1977 ketika mendirikan NEHRP (National Earthquake Hazards Reduction Program) yang ditujukan untuk mengurangi risiko nyawa dan harta benda akibat gempabumi yang terjadi di masa depan di Amerika Serikat melalui pembentukan dan pemeliharaan program pengurangan bahaya gempa yang efektif. Dengan adanya program ini diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang penyebab dan lokasi gempabumi akan terjadi, namun belum dapat diandalkan mengenai tanggal dan waktu gempabumi akan terjadi. Kesimpulannya, observasi dan analisis terhadap fakta yang diperoleh selama ini belum cukup untuk melakukan suatu prakiraan bencana yang akurat.

Tidak berhenti sampai disitu, sebab memprediksi dan memprakirakan terjadinya bencana saja tidak cukup untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan harta benda. Harus ada upaya untuk mengantisipasi dampak yang dihasilkan ketika bencana terjadi, maka dibuatlah mitigasi bencana. Dengan memahami cara kerja bencana alam dan memanfaatkan hukum-hukum alam untuk mengurangi efek negatif dari bencana tersebut. Ketika manusia telah memahami cara kerja suatu bencana alam, maka mereka akan selalu waspada dan dengan mudah mencari tempat perlindungan yang aman dari dampak negative bencana alam tersebut. Misalnya, dengan menjauh dari pusat erupsi gunungapi ketika terjadi erupsi, atau dengan berlindung di bawah meja ketika terjadi gempabumi. Begitu pula dengan desain-desain konstruksi yang dibangun dalam rangka mengurangi efek negatif bencana alam, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak memahami mekanisme alamiah dari bencana alam tersebut. Misalnya konstruksi sabo, yang berguna untuk melokalisir aliran lahar dari suatu gunungapi, dan konstruksi bangunan tahan gempa yang membuat gedung-gedung dapat bertahan lebih lama ketika terjadi gempabumi sehingga orang di dalamnya masih sempat untuk menyelamatkan diri keluar dari gedung tersebut.

Prakiraan dan mitigasi bencana memperlihatkan pada kita bahwa mekanisme alamiah dari bencana diantisipasi oleh manusia juga dengan memahami dan memanfaatkan hukum-hukum alam. Namun, yang perlu kita pahami, suatu bencana alam tidak dapat terjadi begitu saja. Ia memiliki penyebab-penyebab yang spesifik, suatu kondisi yang menyebabkan suatu bencana geologi layak, yang dalam pengamatan manusia sesuai dengan hukum alam. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa ada penyebab tersebut dan mengapa penyebab itu terjadi pada waktu tertentu? Hal ini yang belum terjawab oleh manusia. Bahkan jika kita bertanya lebih jauh lagi, mengapa harus ada hukum alam? Terhadap pertanyaan ini, manusia hanya dapat menjawab sebatas mekanismenya saja.

Dengan memahami hakikat bencana alam serta hukum alam yang bekerja pada fenomena tersebut, dapat kita sadari bahwa manusia sesungguhnya merupakan makhluk yang terbatas. Manusia bahkan hanya bagian yang sangat kecil dari komponen alam semesta. Alam semesta yang memiliki keteraturan luar biasa, hingga dapat bertahan sejak Big Bang 14 milyar tahun yang lalu merupakan bukti sahih bahwa hukum alam bukanlah suatu hasil proses acak, sebagaimana yang dijadikan dalih oleh para penganut materialisme.

Bencana dan kondisi geologi mengajari kita, bahwa segala yang ada di alam semesta ini memiliki keteraturan yang sungguh sangat rapi. Dapat kita amati bagaimana persebaran gunungapi serta zona rawan gempabumi tersebar secara rapi di batas-batas lempeng tektonik. Bagaimana pula kekuatan bencana alam yang superdahsyat dapat meluluhlantakkan peradaban manusia, yang bahkan proses yang destruktif ini terjadi dengan sangat teratur. Gempabumi diawali dengan foreshock dan diakhiri dengan aftershock. Erupsi gunungapi yang tiap gunung memiliki karakteristik erupsi yang berbeda-beda. Sehingga manusia pun dapat menemukan suatu pola keteraturan hingga dapat beradaptasi dengan bencana dan meminimalisir dampak negatifnya. Jika kita cermat memahami realitas ini, maka kita akan sampai pada suatu pertanyaan: Siapa yang membuat alam semesta ini sedemikian teraturnya? Jika kita menjawabnya, dengan hukum alam, maka pertanyaannya akan berlanjut, siapa yang memformulasikan hukum alam ini hingga semuanya menjadi sangat pas? Sampai disinilah batas manusia. Manusia tidak dapat menjelaskan jawaban dari pertanyaan itu. Pada kondisi seperti ini, manusia akan memahami bahwa sesungguhnya ada suatu subjek yang mempunyai kewenangan dalam mengatur seluruh mekanisme alamiah ini, yang kita sebut sebagai Sang Pencipta (The Creator).

Oleh karena itu, adalah suatu kepastian bahwa dalam proses berawalnya alam semesta hingga saat ini bisa kita amati, melibatkan suatu desain yang Mahasempurna dan Mahatepat. Adanya penciptaan yang disengaja dan direncanakan oleh Sang Pencipta. Hal ini menjadi kesimpulan umum para ilmuwan, termasuk ilmuwan yang berpaham materialisme yang tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Sebagian materialis bertindak dengan lebih menggunakan akal sehat mengenai hal ini. Materialis Inggris, H. P. Lipson menerima kebenaran penciptaan, meskipun ‘tidak dengan senang hati’, ketika dia berkata:

Jika materi hidup bukan disebabkan oleh interaksi atom-atom, kekuatan alam, dan radiasi, bagaimana dia muncul? …. Namun, saya pikir, kita harus …. Mengakui bahwa satu-satunya penjelasan yang bisa diterima adalah penciptaan. Saya tahu bahwa ini sangat dibenci para ahli fisika, demikian pula saya, namun kita tidak boleh menolak apa yang tidak kita sukai jika bukti ekspiermental mendukungnya”.

Ini adalah kesimpulan yang seharusnya dibuat oleh manusia ketika mengamati semua fenomena alam yang dapat mereka indera di dunia ini. Ada satu hal yang kita dapat ketika kita menyingkirkan semua kemungkinan jawaban yang ada, walaupun kenyataan ini mungkin sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sains: “Sang Pencipta mutlak adanya”. God does exist, or should I say: God must exist!

Piktograf

Anda pernah menonton film The Croods? Film tersebut menceritakan tentang satu keluarga manusia gua, yang kemudian bertemu dengan seorang manusia cerdas, dan memperoleh banyak pengetahuan baru tentang cara bertahan hidup. Dalam film itu diceritakan keluarga Grug sering mendengarkan cerita yang dibawakan oleh Grug sendiri sebagai kepala keluarga. Ia menggunakan media dinding gua untuk menggambarkan ceritanya. Dengan menggambar di dinding gua. Nah, gambar atau lukisan tersebut disebut Piktograf.

Piktograf ialah gambar atau lukisan yang dibuat di atas batu. Piktograf tidak sama dengan ukiran pada batuan (petroglif). berikut ini adalah beberapa foto piktograf yang ditemukan di gua-gua di seluruh dunia yang diperkirakan merupakan tempat tinggal hominid ribuan tahun lalu sebelum masa manusia modern, yang kemungkinan salah satunya adalah gambar hasil karya Grug 🙂

1. Cave of the Hands, Argentina
Cueva de las Manos (Bahasa Spanyol dari Cave of the Hands) adalah deretan gua-gua di Argentina yang di dalamnya terdapat gambar karya manusia purba yang berumur sekitar 9000 tahun yang lalu. Dinding gua di foto berikut merupakan salah satu dari dinding gua yang tergambar oleh siluet tangan. Diperkirakan gambaran siluet tangan tersebut dibuat dengan menempelkan tangan pada dinding kemudian disemprotkan semacam cairan ke atas tangan. Cueva de las Manos saat ini sudah termasuk ke dalam UNESCO World Heritage Site. Image by edurivero © iStockphoto.com.

Tidak semua gambar di gua ini berupa siluet tangan. Ditemukan juga beberapa gambar berupa desain geometri, hewan, pemburu, dan senjata. Zat warna yang digunakan ialah oksida besi (merah), kaolin (putih), natrojarosite (kuning), dan oksida mangan (hitam). Image by edurivero © iStockphoto.com.

2. Ontario, Canada
“Two Figures” dari piktograf di Agawa Rock, Lake Superior Provincial Park, Ontario, Canada. Image by David Lewis © iStockphoto.com.

3. Canyon de Chelly, Arizona
Piktograf dan petroglif karya manusia Amerika di Canyon de Chelly National Monument. Image by Karen Parker © iStockphoto.com.

4. Aruba
Piktograf purba di sebuah gua di pulau Aruba. Image by zinchik © iStockphoto.com.

5. Namibia
Piktograf tentang suku bushmen dari Gurun Namibia. Image by Jan Derksen © iStockphoto.com.

6. Australia
Piktograf Aborigin yang dibuat oleh manusia Gagudju, Australia Utara. Gambar ini diyakini berumur 5000 tahun. Image by Matthew Scherf © iStockphoto.com.

7. Afrika Selatan
Piktograf pada sebuah dinding batu di Drakensberg, Afrika Selatan. Image by Henk Badenhorst © iStockphoto.com.

Gambar pemburu pada dinding gua di Cedeberg, Afrika Selatan. Gambar ini diperkirakan berumur 1500 tahun. Image by skilpad © iStockphoto.com.

8. Brazil
Piktograf yang dilukis pada gua Monte Alegre, Brazil. Image by Brasil2 © iStockphoto.com.


9. Utah
Piktograf yang menunjukkan orang-orang Fremont, dan kebudayaannya. Image by Andrea Gingerich © iStockphoto.com.

Piktograf tangan orang Amerika asli, di Canyonlands National Park, Utah, AS. Image by Andrea Gingerich © iStockphoto.com.

10. British Columbia, Kanada
Piktograf yang dilukis di tebing dekat Danau Vaseux, British Columbia, Kanada. Image by Laure Neish © iStockphoto.com.

11.  Meksiko
Piktograf di Meksiko. Image by Juan Rodriguez © iStockphoto.com.

12. Nevada
Piktograf yang dibuat oleh orang asli Amerika di Red Rock Canyon, Nevada, AS. Image by Robert Maxwell © iStockphoto.com.

Sumber: http://geology.com/articles/petroglyphs/more-pictographs.shtml

Pulau Baru untuk Jepang

Wilayah Jepang bertambah luas dengan terbentuknya gunungapi yang menjadi pulau baru sekitar 900 km di selatan Tokyo.

Pulau tersebut berdiameter sekitar 200 m, berdasarkan laporan pengawas pantai Jepang. Pualu baru tersebut berdekatan dengan pesisir pulau Nishinoshima, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu anggota dari Kepulauan Bonin, atau rangkaian pulau Ogasawara.

Yoshihide Suga, mewakili pemerintah Jepang menyatakan bahwa mereka akan menunggu berapa lama pulau tersebut dapat bertahan di permukaan, baru kemudian akan memberi nama pulau tersebut. Sebab pulau yang baru akan cenderung tenggelam kembali dalam waktu singkat ketika menerima hempasan gelombang.

“Jika pulau tersebut bisa tumbuh menjadi sebuah pulau yang sempurna, maka kami akan sangat bahagia mendapatkan tambahan luas territorial,” Suga menanggapi pertanyaan pres.
Kamis (21/11), pengawas pesisir Jepang merilis video terkait pulau baru tersebut, yang tertutupi oleh gulungan asap dan uap air. Video tersbut menunjukkan debu dan blok vulkanik yang dierupsikan keluar dari kawah di dekat permukaan laut.

Hiroshi Ito, ahli volkanologi, menyatakan bahwa masih belum bisa dipastikan apakah pulau tersebut akan menjadi pulau yang permanen atau akan kembali tenggelam di bawah permukaan laut.

Jepang sendiri merupakan suatu deretan kepulauan dari ribuan pulau, meskipun sebagian besar penduduk Jepang tinggal di pulau yang paling besar. Jepang sangat dikenali dengan aktivitas vulkanik dan kegempaan yang sangat tinggi, dan juga merupakan salah satu rangkaian dari rangkaian besar Cincin Api (Ring of Fire), yang mengelilingi sebagian besar dari Samudera Pasifik.

Secara tektonik, daerah yang aktif di Cincin Api ini ialah pesisir timur Asia dan sisi barat Amerika Utara dan Selatan. Cincin Api ini juga yang memicu erupsi vulkanik besar di St. Helens di Washington dan Pinatubo di Filipina.

Adapun gunungapi yang membentuk pulau termuda dari Jepang, terakhir bererupsi pada pertengahan 1970-an, di sepanjang Palung Ogasawara-Mariana.
Sumber: http://news.nationalgeographic.com/news/2013/11/131121-japan-volcano-new-island-eruption-science/

Hukum Ilmiah

Hukum ilmiah ialah prinsip-prinsip dasar yang menggambarkan perilaku alam tertentu yang umumnya berlaku dalam skala kecil dan dapat dinyatakan dengan singkat, biasanya dengan persamaan matematika sederhana. Karena hukum ini sering terbukti dan teramati berkali-kali secara konsisten dalam pengamatan dan pengukurannya, maka hukum sangat jarang untuk ditolak. Namun begitu, hukum tetap harus mengalami modifikasi untuk menyesuaikannya dengan penemuan fakta yang baru. Misalnya, Hukum Gerak Newton saat ini masih berlaku dalam kehidupan sehari-hari (NASA menggunakannya untuk mengkalkulasi trayektori satelit), namun hukum ini tidak berlaku pada objek dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Untuk kasus ini, maka yang berlaku ialah Teori Relativitas Einstein.

Hubungan Antara Organisme Planktonik dan pH Air Laut

Lautan, mendukung populasi yang besar dari organisme sel tunggal (fitoplankton), untuk mengurangi karbondioksida di atmosfer yg diproduksi dari pembakaran bahan bakar fosil, melalui mekanisme fotosintesis oleh organisme tersebut. Satu jenis fitoplankton, yaitu kokolitofora, diketahui ialah organisme yang memiliki kemampuan untuk membentuk lempengan kapur (kalsium karbonat) dalam selnya, yang disekresikan untuk membentuk semacam pelindung di permukaan selnya. Dalam skala global, proses kalsifikasi berpengaruh secara spesifik terhadap kadar karbon di permukaan laut, dan kokolitofora ialah komponen penting dalam siklus karbon global, ketika sel-sel tubuhnya yang mati dan kalsium karbonat tenggelam dan menjadi sedimen laut.
 
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam PLoS Biology 21 Juni, sebuah tim ilmuan dari Marine Biological Association dan Plymouth Marine Laboratory di Inggris dan University of North Carolina Wilmington, AS melapurkan sebuah temuan yang tidak terduga bahwa kokolitofora menggunakan mekanisme yang mirip dengan sel hewan vertebrata dalam memfasilitasi kalsifikasi. Mereka menemukan bahwa proses ini dapat langsung dipengaruhi oleh semakin tingginya tingkat karbon dioksida yang terlarut dalam lautan.
 
Lempengan pelindung dari kokolitofora dibentuk oleh pengangkutan kalsium dan bikarbonat ke dalam sel di mana mereka bergabung untuk membentuk kalsium karbonat. Kalsifikasi adalah proses yang sangat tergantung oleh pH dan kemungkinan akan terpengaruh oleh peningkatan kadar karbon dioksida yang membuat laut semakin asam. Para peneliti menggunakan kombinasi dari fisiologi sel tunggal dan biologi molekuler untuk mengidentifikasi mekanisme molekuler yang mendasari proses kalsifikasi. Sebuah produk sampingan dari reaksi kalsifikasi adalah pembentukan proton (H+) di dalam sel. “Ion-ion H+ berpotensi dapat terakumul asi dalam sel dan menyebabkan sel menjadi asam – sebuah proses yang dikenal sebagai asidosis metabolik” kata Alison Taylor, penulis artikel. Sel menggunakan berbagai proses yang dapat mengatur pH untuk meringankan beban ion H+ yang berlebihan. Tim ini menunjukkan bahwa kokolitofora membuang H+ yang tidak diperlukan dengan membiarkannya untuk keluar sel melalui pori-pori protein khusus, atau saluran ion, yang selektif permeabel terhadap ion H+. Proses ini membuat pH di dalam sel-sel pada tingkat yang dapat diterima dan memungkinkan kokolitofora untuk menghasilkan lempengan kalsium karbonat.
 
Tim mengidentifikasi gen pada saluran yang dilalui protein. “saluran Ini merupakan jenis transportasi unik dari protein yang ditemukan baru-baru ini dalam beberapa jenis sel hewan yang mengalami asidosis metabolik” jelas Glen Wheeler, penulis dalam penelitian. “Ternyata bahwa gen saluran ini juga ada dalam kelompok-kelompok lain dari fitoplankton yang tidak memiliki kaitan erat dengan tanaman atau hewan manapun. Penemuan kami menunjukkan bahwa saluran ini lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya dan bahwa mereka melayani fungsi penting dalam meregulasi pH sel selama berbagai proses seluler dalam organisme yang telah mengalami proses evolusi yang jauh” kata Wheeler.
 
“Temuan kunci dari penelitian ini adalah bahwa aktivitas saluran H+ di kokolitofora tergantung pada pH eksternal” jelas Colin Brownlee, dari Marine Biological Association. “Temuan ini akan memungkinkan pemahaman lebih baik tentang bagaimana fitoplankton merespon perubahan kimia laut akibat peningkatan pelarutan karbon dioksida dari atmosfer di permukaan air laut.” (sciencedaily.com)

Prediksi Gempabumi

Gempa jepang yang terjadi pada 11 maret 2011dengan Mw 9,0 yang setara dengan energi 475 megaton TNT, berepisentrum di sendai, konon katanya sudah diprediksi oleh para ahli seismologi di jepang. Begitu pula dengan kemungkinan akan terjadinya gelombang tsunami. Berbagai macam tindakan antisipasi juga sudah dilakukan. salah satunya dengan mengamankan reactor nuklir yang ada di fukushima dengan membangun tembok penghalang setinggi 5 meter.

Tapi, mengapa tetap terjadi suatu kekacauandan korban yang banyak, serta yang popular dibidarakan ialah tentang bocornya reactor nuklir fukushima? Ternyata yang menjadi masalah ialah karena prediksinya kurang akurat. Para ahli memprediksikan akan terjadi gempa bumi dengan magnitude maksimum 8 SR. namun, nyatanya yang terjadi ialah 9,0 SR. memang seperti terlihat hanya beda sedikit saja kan. Sebenarnya itu perbedaan yang sangat besar. Karena besaran magnitude setap kenaikan satu satuan naiknya secara eksponensial. Jadi, 9 SR memiliki energy yang 10 kali lebi besar disbanding 8 SR.

Kesalahan prediksi pula menyebabkan kesalahan dalam menebak perkiraan mengenai gelombang tsunami yang akan terjadi. Berdasarkan perhitungan, gelombang tsunami yang akan sampai ke daratan tempat adanya reactor nuklir tersebut tidak akan sampai melebihi ketinggian 5 m. sehingga mereka sudah membangun tembok penghalang setinggi 5 m. namun, apa mau dikata, dengan magnitude gempa yang berbeda, ketinggian gelombang tsunami pun jadi berbeda. Sehingga reactor nuklir fukushima pun tidak dapat terhindarkan untuk ‘berjumpa’ dengan gelombang tsunami yang berenergi tinggi tersebut.

Sekarang, mari kita tengok. Kenapa sih sampai terjadi kesalaan dalam prediksi gempa? Dalam ilmu ‘nujum’ memprediksi gempa, hal-hal yang diperhatikan ialah kondisi geologi daerah, dan sejarah gempa yang terjadi pada daerah tersebut.

Pertama, kondisi geologi digunakan untuk membuat model daerah, dan dengan data-data seismic dan segala macam sifat fisis yang terus diperbarui, misalkan adanya kompresi di titik X dan ekstensi di titik Y, kemudian disajikan dalam model geologi daerah. Sehingga dapat terlihat kemungkinan di mana akan terjadinya focus gaya yang besar dan dapat mengakibatkan pelepasan energy dan berujung pada gempa bumi. Kendala dari metode ini ialah, model yang dibuat tidaklah sama 100% dengan kondisi geologi yang sebenarnya. Banyak asumsi-asumsi yang digunakan karena data-data yang dimiliki belum memenuhi untuk membuat model yang benar-benar sama dengan real-nya. Nah, asumsi-asumsi inilah kemungkinan yang menjadi penyebab adanya error dalam menebak kekuatan, lokasi focus, dan waktu terjadinya gempa bumi.

Kedua, sejarah gempa bumi di suatu daerah juga bisa dijadikan acuan dalam menentukan prediksi gempa. Sebab, dengan mengetahui sejarah gempa-gempa yang terjadi di suatu daerah, kita dapat mengetahui bagaimana karakteristik daerah tersebut ketika terjadi gempa. Entah kekuatannya, sifat penjalaran gelombangnya, dan lain sebagainya. Kasus gempa di Jepang, tidak pernah ditemukan data yang menyatakan terjadi gempa dengan magnitude di atas 8 SR. sehingga dengan percaya diri para ahli menyatakan bahwa maksimum magnitude yang terjadi ialah 8 SR. masalahnya terletak pada data yang dipunyai oleh si predictor. Mungkin data yang dimiliki berkata demikian. Namun, kejadian gempa sebelum perekaman data tidak ada yang tau, apakah pernah terjadi gempa di atas 8 SR. karena sepanjang apapun deretan data yang kita miliki, tidak akan lebih panjang dari umur bumi.

Begitulah, ilmu prediksi gempa ialah ilmu yang sudah ada metodenya, namun belum bisa terpakai secara optimal. Masih banyak hal-hal yang perlu untuk dikoreksi.

Sains Modern

Oleh: Syamsuddin Arif

Kehidupan di muka bumi ini bermula sekitar 3½ miliar tahun yang lalu. Sejak itu pelbagai organisme bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup, dengan begitu ber‘evolusi’ menghasilkan aneka ragam spesies baru yang semakin lama semakin canggih. Sampai kemudian muncul spesies baru bernama manusia yang dengan akalnya mulai mencari asal-usul kehidupan. Ribuan bahkan jutaan tahun berlalu tak seorangpun konon berhasil memberi jawaban memuaskan. Baru pada tahun 1735 Carolus Linnaeus dari Swedia menjadi ‘manusia pertama’ yang membuat klasifikasi berdasarkan kemiripan dan memberikan ‘nama saintifik’ bagi tiap-tiap spesies. Dan baru pada tahun 1859 teka-teki biologi tersebut berhasil dipecahkan oleh saintis Inggris bernama Charles Darwin. Manusia, sebagaimana spesies lain, ‘muncul’ (evolved) dengan sendirinya dari proses seleksi alam.

Jika dipikirkan kembali, dongeng evolusi ini tidak hanya sarat dengan khayalan tetapi juga berunsur penghinaan. Pertama, kendati berangkat dari kajian empiris selama pelayarannya di Amerika Selatan, penyimpulan Darwin lebih bersifat dugaan (conjecture) ketimbang kepastian. Dalam konstruk epistemologi Islam, pengetahuan semacam ini disebut zhann atau sangkaan. Validitasnya hanya sedikit lebih tinggi dari keragu-raguan dan kira-kira (wahm). Pengetahuan yang dibangun diatas teori serupa ini tidak sampai derajat yakin. “Mereka sekadar mengikuti sangka belaka, padahal sangkaan itu tidak bisa menggantikan kebenaran,” firman Allah dalam al-Qur’an (53:28). Kedua, cerita evolusi itu juga mengesankan seolah-olah bangsa kulit putih sajalah yang paling hebat. Tak salah jika banyak yang menyebutnya ‘heroisme kolonial’.

Anehnya, khayalan Darwin itu menjelma jadi dogma. “Susah, pak, menolak teori evolusi kalau ingin menjadi ahli biologi sekarang ini,” ujar sahabat saya dari Unibraw, Malang. Ia ibarat rukun iman bagi biolog modern. Tapi justru di sinilah letak persoalannya. Ilmu-ilmu alam (natural sciences) yang kita pelajari dan kita ajarkan kepada siswa dan mahasiswa adalah ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Eropa sejak 500 tahun terakhir. Mulai dari ilmu-ilmu alam hingga ilmu-ilmu sosial atau humaniora. Tak mungkin dipungkiri, ilmu-ilmu tersebut jelas diwarnai oleh akidah alias Weltanschauung ilmuwan bersangkutan. Secara sadar ataupun tidak, pelbagai disiplin ilmu yang kita konsumsi sekarang ini mengandung unsur-unsur halus naturalisme, materialisme, dan sebagainya.

Tak jauh beda khayalan ilmiah mengenai alam semesta. Konon, kata para saintis, alam semesta ini ‘muncul’ akibat ledakan mahadahsyat (Big Bang) yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun silam. Kalau tidak percaya silakan hitung sendiri, kata seorang teman setengah berguyon. Ledakan tersebut melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru. Materi-materi itulah yang mengisi alam semesta ini, yang kemudian dinamakan bintang, planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energi, dan sebagainnya. Maka dikhayalkan bahwa alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya dan akan terus menerus ada. Gambaran ini jelas memantulkan pandangan materialistis yang menafikan kewujudan Tuhan.

Namun sayang sekali kebanyakan ilmuwan kita seperti tidak berkutik di hadapan sains modern. Jauh dilubuk hati mengakui Allah sebagai pencipta dan berkuasa atas segala sesuatu dari partikel terkecil hingga galaksi dan jagat raya. Tetapi dalam pikiran bertahta saintisme beserta hulu-balangnya. Disaat kaum Muslim berlomba-lomba mengejar mantan penjajah mereka dalam bidang sains dan teknologi, seruan ‘islamisasi’ memang terdengar aneh. Apakah kaum Muslim harus menolak sains modern? Oh, bukan itu maksudnya.

Islamisasi bermula dari kerangka berpikir, ‘worldview’ yang terdiri dari gugusan konsep-konsep Islami berkenaan dengan Tuhan, Wahyu, Nabi, Ilmu dan seterusnya. Ia berfungsi sebagai filter penyaring dan penepis elemen-elemen yang tidak sesuai atau bertolak-belakang dengan konsep-konsep Islami tersebut. Ini karena sesungguhnya cara kerja pikiran kita tak ubahnya bagaikan sistem metabolisme badan. Meminjam ucapan Seyyed Hossein Nasr, penulis buku Science and Civilization in Islam: “Tidak pernah ada sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikit pun. Mirip dengan tubuh kita. Kalau kita cuma makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja, kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang (No science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected. It’s like the body. If we only ate and the body did not reject anything we would die in a few days. Some of the food has to be absorbed, some of the food has to be rejected).” Artinya, kita hanya perlu bersikap lebih kritis dan selektif terhadap sains modern.

Pembahasan Mengenai Gunung dalam Al quran

Secara eksplisit, kitab suci al Quran menyebut kata gunung, baik jamak ataupun tunggal sebanyak 39 kali. Dan secara jelas diartikan sebagai stabilisator lapisan kulit bumi sebanyak dalam 10 pernyataan lainnya. Ada ayat-ayat yang secara metaforis menekankan pada massa gunung, ketinggian, dan sifat pasif dan padatnya. Seperti berikut:

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah balasan makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu amat besar sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (QS. Ibrahim: 46)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Israa’: 37)

hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, (QS. Maryam: 90)

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al Ahzab: 72)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al Hasyr: 21)

Dari beberapa kutipan ayat di atas, kita melihat bahwa gunung banyak kali dijadikan sebagai obyek perumpamaan untuk menjelaskan wahyu Allah azza wa jalla kepada manusia. Maka, hendaklah bagi umat manusia yang mempelajari gunung, tidak hanya memahami hakikat fisik dari gunung itu sendiri, tapi juga memahami hikmah dari aspek spiritual dari diciptakannya gunung.

Ilmu geologi mempelajari bagian padat bumi, mulai dari permukaan sampai sekitar beberapa kilometer ke bawah. Gunung, dalam pandangan ilmu geologi dianggap sebagai obyek yang paling komplet utnuk mempelajari berbagi macam proses alamiah bumi dalam satu tempat. Dari gunung, utamanya gunung api, seorang yang belajar geologi dapat menemukan konsep geologi mulai dari aspek mineralogi (di gunung api-lah batuan beku banyak ditemukan), tektonik lempeng (gunung api terbentuk di batas-batas lempeng tektonik), sejarah bumi (punggungan dasar samudera merekam bukti pembalikan medan magnet bumi), dan prinsip kestabilan kulit bumi (prinsip isostasi).

Menurut Zaghlul Raghib Muhammad al Najjar, dalam 12 pernyataan berbeda, kitab suci al Qur’an (yang pada dasarnya merupakan buku petunjuk) menguraikan konsep geologi dasar gunung sebagai berikut:

  1. bahwa gunung tidak saja merupakan peninggian yang terlihat pada permukaan bumi, tetapi perpanjangannya ke bawah di dalam lapisan kulit bumi (dalam bentuk tiang pancang atau pasak) sangatlah ditekankan.

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?, (QS. An Naba’: 6-7)

  1. dalam 10 ayat lainnya kitab suci al Quran menekankan peranan gunung sebagai stabilsator permukaan luar bumi (atau lapisan kulit).

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al Hijr: 19)

Dan dalam ayat-ayat lain (13:3; 16:15; 21:31; 27:61; 31:10; 41:10; 50:7; 77:25-27; 79:30-33)

Untuk menegaskan fungsi gunung sebagai stabilisator bumi, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

“Ketika Allah menciptakan bumi, permukaannya mulai bergerak dan bergoyang, kemudian Allah menstabilkannya dengan gunung-gunung.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad/124)

  1. pada ayat ke-12 dari kelompok ini, kitab suci al Quran menyuruh manusia agar merenungkan seluruh fenomena yang Allah ciptakan, termasuk bagaimana gunung disusun. Pemikiran tersebut telah mengantarkan pada konsep isostasi yang menjelaskan gunung dapat berdiri di permukaan bumi.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al Ghaasyiyah: 17-20)

  1. dalam pernyataan lain, al Quran melukiskan gunung terdiri dari garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam dan ada pula yang hitam pekat.

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir: 27-28)

Ini barangkali merujuk pada gunung api kontinental, yang sebagian besar terdiri dari batuan granit dan andesit yang dominan bercorak merah dan putih abu-abu. Maupun gunung api di punggungan dasar samudera yang dominan tersusun oleh batuan basltik yang berwarna gelap. Masing-masing jenis gunung ini memiliki kekhasan dalam susunan mineraloginya, demikian pula asal usul spesifiknya.

  1. dalam kelompok terakhir ayat ini, al Quran menggarisbawahi, bahwa gunung bukan suatu tubuh yang diam, tapi juga ikut bergerak mengikuti dinamika bumi yang dikendalikan oleh mekanisme tektonik lempeng.

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An Naml: 88).

Peningkatan Resiko Gempa di Indonesia

Gempa yang mengguncang Padang akhir September tahun 2009 lalu dan merenggut nyawa lebih dari 1000 orang, telah berlalu. Namun itu bukanlah gempa besar. Para ahli sekarang masih menunggu datangnya gempa lain yang lebih besar di belahan barat bumi Andalas. Hal ini dikemukakan dalam paper yang dipublikasikan 18 Januari 2010 di Jurnal Nature Geoscience.

Penulisnya, Prof. McCloskey, dari Universitas Ulster, mengimbau pemerintah dan organisasi nonpemerintah untuk mempersiapkan hal ini. Karena akan sangat menyedihkan apabila kita kembali melihat pemandangan seperti akhir september lalu di Padang atau pekan lalu di Haiti. Begitu banyak korban jiwa serta korban yang kritis akibat tidak tertangani dengan baik. Atau ada anak-anak yang mati akibat kekurangan beberapa jahitan atau tidak mendapat gips bagi yang patah kaki.

Daerah barat sumatera, adalah daerah pertemuan lempeng Samudera Hindia dan lempeng Eurasia. Kedua lempeng tersebut telah bertumbukan dan menyimpan sejumlah besar energi, dan akan dilepaskan hanya dalam tempo yang singkat saja. Dapat diilustrasikan seperti busur yang ditarik perlahan kemudian dilepaskan secara cepat.

Gempa Haiti pekan lalu, menambah keyakinan para ahli bahwa gempa di sumatera akan menyusul. Mereka tidak dapat menentukan seberapa besar kekuatan gempa tersebut, hanya diperkirakan mungkin lebih besar dari 8,5. Begitu pula dengan potensi terjadinya tsunami, mereka belum dapat memastikan.

Oleh karena itu akan sangat lebih baik apabila kita semua mempersiapkan diri kita dalam menghadapi kemungkinan terburuk tersebut. Menyediakan meja yang kokoh untuk tempat berlindung dalam keadaan yang mendesak adalah cara yang baik. Berikut ini

Pada kesimpulannya, para ahli tidak dapat meprediksi dengan tepat posisi dan waktu terjadinya gempa. Sekali lagi, langkah paling cerdas yang dapat kita lakukan hanyalah mempersiapkan.

Biochar Sebagai Senjata Modern Untuk Melawan Pemanasan Global

Para ilmuwan melaporkan bahwa “biochar” – suatu material yang digunakan suku Indian Amzon untuk meningkatkan kesuburan tanah, berabad-abad yang lalu – berpotensial di dunia modern untuk membantu memperlambat perubahan iklim global. Produksi massa dari biochar dapat menangkap dan menyimpan karbon yang jika tidak akan masuk di atmosfer sebagai karbon dioksida, gas utama rumah kaca.

Laporan mereka diterbitkan di ACS’ Environmental Science & Technology, sebuah jurnal dua-pekanan.

Kelli Roberts dan rekan-rekannya mencatat bahwa biochar adalah arang yang diproduksi dari pemanasan kayu, rumput, batang jagung, atau zat organik lain dalam kondisi tidak ada oksigen. Panas tersebut melepaskan gas-gas yang dapat dikumpulkan dan dibakar untuk menghasilkan energi. Gas-gas tersebut meninggalkan arang yang kaya karbon.

Indian Amazon mencampurkan kombinasi arang dan zat organik ke dalam tanah memperbaiki kesuburan tanah, sebuah fakta yang membuat banyak ilmuwan tertarik untuk mempelajari potensi modern dari biochar.

Penelitian ini melibatkan sebuah “analisis siklus-hidup” dari produksi biochar, yang komprehensif melihat potensinya dalam memerangi perubahan iklim global dan segala konsekuensi yang mungkin terjadi ketika menggunakan bahan ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beberapa sistem produksi biochar memiliki potensi ekonomis sebagai cara untuk mengurangi karbon – menyimpannya secara permanen – di samping dapat menghasilkan energi yang terbarukan dan meningkatkan kesuburan tanah.