Batuan Beku

  1. Batuan

Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral, yang merupakan bagian dari kerak bumi. Terdapat tiga jenis batuan yang utama yaitu : batuan beku (igneous rock), terbentuk dari hasil pendinginan dan kristalisasi magma didalam bumi atau dipermukaan bumi ; batuan sedimen (sedimentary rock), terbentuk dari sedimen hasil rombakan batuan yang telah ada, oleh akumulasi dari material organik, atau hasil penguapan dari larutan ; dan batuan metamorfik (metamorphic rock), merupakan hasil perubahan dalam keadaan padat dari batuan yang telah ada menjadi batuan yang mempunyai komposisi dan tekstur yang berbeda, sebagai akibat perubahan panas, tekanan, kegiatan kimiawi atau perpaduan ketiganya. Semua jenis batuan ini dapat diamati di permukaan sebagai singkapan. proses pembentukannya juga dapat diamati saat ini. Sebagai contoh, kegiatan gunung api yang menghasilkan beberapa jenis batuan beku, proses pelapukan , erosi, transportasi dan pengendapan sedimen yang setelah melalui proses pembatuan (lithification) menjadi beberapa jenis batuan sedimen.

Kerak bumi ini bersifat dinamik, dan merupakan tempat berlangsungnya berbagai proses yang mempengaruhi pembentukan ketiga jenis batuan tersebut. Sepanjang kurun waktu dan akibat dari proses-proses ini, suatu batuan akan berubah menjadi jenis yang lain. Hubungan ini merupakan dasar dari jentera (siklus) batuan.

  1. Asal kejadian batuan beku

Batuan beku merupakan kumpulan (aggregate) dari bahan yang lebur yang berasal dari selubung bumi (mantel). Sumber panas yang diperlukan untuk meleburkan bahan ini berasal dari dalam bumi, dimana temperatur bertambah dengan 300 C setiap kilometer kedalaman (geothermal gradient) . Bahan yang lebur ini, atau magma, adalah larutan yang kompleks, terdiri dari silikat dan air, dan berbagai jenis gas. Magma dapat mencapai permuakaan, dikeluarkan (ekstrusi) sebagai lava, dan didalam bumi disebut batuan beku intrusif dan yang membeku dipermukaan disebut sebagai batuan beku ekstrusif.

Komposisi dari magma tergantung pada komposisi batuan yang dileburkan pada saat pembentukan magma. Jenis batuan beku yang terbentuk tergantung dari berbagai faktor diantaranya, komposisi asal dari peleburan magma, kecepatan pendinginan dan reaksi yang terjadi didalam magma di tempat proses pendinginan berlangsung. Pada saat magma mengalami pendinginan akan terjadi kristalisasi dari berbagai mineral utama yang mengikuti suatu urutan atau orde, umumnya dikenal sebagai Seri Reaksi Bowen.

Pada gambar ditunjukkan bahwa mineral pertama yang terbentuk cenderung mengandung silika rendah. Seri reaksi menerus (continuous) pada plagioklas dimaksudkan bahwa, kristal pertama, plagioklas-Ca (anorthite), menerus bereaksi dengan sisa larutan selama pendinginan berlangsung. Di sini terjadi substitusi sodium (Na) terhadap kalsium (Ca).

Seri tak-menerus (discontinuous)  terdiri dari mineral-mineral feromagnesian (Fe-Mg). Mineral pertama yang terbentuk adalah olivine. Hasil reaksi selanjutnya antara olivine dan sisa larutannya membentuk piroksen (pyroxene). Proses ini berlanjut hingga terbentuk biotite. Apabila magma asal mempunyai kandungan silika rendah dan kandungan besi (Fe) dan magnesium (Mg) tinggi, magma dapat membentuk batuan sebelum seluruh seri reaksi ini terjadi. Batuan yang terbentuk akan kaya Mg dan Fe, yang dikatakan sebagai batuan mafic , dengan mineral utama olivin, piroksen dan plagioklas-Ca. Sebaliknya, larutan yang mengandung Mg dan Fe yang rendah, akan mencapai tahap akhir reaksi, dengan mineral utama felspar, kwarsa dan muskovit, yang dikatakan sebagai batuan felsic atau sialic.

Seri reaksi ini adalah ideal, bahwa perubahan komposisi cairan magma dapat terjadi di alam oleh proses kristalisasi fraksional (fractional crystallization), yaitu pemisahan kristal dari cairan karena pemampatan (settling) atau penyaringan (filtering), juga oleh proses asimilasi (assimilation) dari sebagian batuan yang terlibat akibat naiknya cairan magma, atau oleh percampuran (mixing) dua magma dari komposisi yang berbeda.

  1. Bentuk dan keberadaan batuan beku

Batuan intrusif dan batuan ekstrusif dapat berupa bentuk geometri yang bermacam-macam.

Masa batuan beku (pluton) intrusif adalah batolit (batholith), umumnya berkristal kasar (phaneritic), dan berkomposisi granitik. Stok (stock), mempunyai komposisi yang sama, berukuran lebih kecil (<100 km). Korok (dike) berbentuk meniang (tabular), memotong arah struktur tubuh batuan. Bentuk-bentuk ini, didasarkan pada hubungan kontaknya dengan struktur batuan yang diterobos disebut sebagai bentuk batuan beku yang diskordan (discordant igneous plutons). Sill, berbentuk tabular, dan Lakolit (lacolith), tabular dan membumbung dibagian tengahnya, memotong sejajar arah umum batuan, yang disebut sebagai bentuk batuan beku yang konkordan (concordant igneous plutons).

  1. Pengenalan batuan beku

Batuan beku dideskripsikan dan dikenal berdasarkan komposisi mineral dan sifat teksturnya. Komposisi mineral batuan mencerminkan informasi tentang magma asal batuan tersebut dan posisi tektonik (berhubungan struktur kerak bumi dan mantel) tempat kejadian magma tersebut. Tekstur akan memberikan gambaran tentang sejarah atau proses pendinginan dari magma.

Komposisi Mineral

Pada dasarnya sebagian besar (99%) batuan beku hanya terdiri dari unsur-unsur utama yaitu ; Oksigen, Silikon, Aluminium, Besi, Kalsium, Sodium, Potasium dan Magnesium. Unsur-unsur ini membentuk mineral silikat utama yaitu ; Felspar, Olivin, Piroksen, Amfibol, kuarsa dan Mika. Mineral-Mineral ini menempati lebih dari 95% volume batuan beku, dan menjadi dasar untuk klasifikasi dan menjelaskan tentang magma asal. Komposisi mineral berhubungan dengan sifat warna batuan. Batuan yang banyak mengandung mineral silika dan alumina (felsik) akan cenderung berwarna terang, sedangkan yang banyak mengandung magnesium, besi dan kalsium (mafik) umumnya mempunyai warna yang gelap. Bagan di bawah ini merupakan cara pengenalan secara umum yang didasarkan terutama pada komposisi mineral.

Sebagai penjelasan, muskovit dan biotit adalah mineral tambahan (asesoris) dan bukan mineral utama untuk dasar pengelompokan. Amfibol dan piroksen menjadi mineral tambahan (asesoris) pada kelompok batuan granitik.

Tekstur

Tekstur adalah kenampakkan dari ukuran, bentuk dan hubungan keteraturan butiran atau kristal dalam batuan. Di dalam deskripsi masroskopik, dikenal tekstur-tekstur yang utama yaitu :

 Fanerik (phaneric)

Terdiri dari mineral yang dapat diamati secara makroskopik, berbutir (kristal) kasar, umumnya lebih besar dari 1 mm sampai lebih besar dari 5 mm. Pada pengamatan lebih seksama dibawah mikroskop, dapat dibedakan bentuk-bentuk kristal yang sempurna (euhedral), sebagaian sisi kristal tidak baik (subhedral) bentuk kristal tak baik (anhedral).

Afanitik (aphanitic)

Terdiri dari mineral berbutir (kristal) halus, berukuran mikroskopik, lebih kecil dari 1 mm, dan tidak dapat diamati dibawah pengamatan biasa.

Porfiritik (Porphyritic)

Tekstur ini karakteristik pada batuan beku, yang memperlihatkan adanya butiran (kristal) yang tidak seragam (inequigranular), dimana butiran yang besar, disebut sebagai fenokris (phenocryst), berbeda di dalam masadasar (groundmass) yang lebih halus.

Vesikuler (Vesicular)

Tekstur yang ditujukkan adanya rongga (vesicle) pada batuan, berbentuk lonjong, oval atau bulat. Rongga-rongga ini adalah bekas gelembung gas yang terperangkap pada saat pendinginan. Bila lubang-lubang ini telah diisi mineral disebut amygdaloidal.

Gelas (glassy)

Tekstur yang menyerupai gelas, tidak mempunyai bentuk kristal (amorph).

Beberapa tekstur karakteristik yang masih dapat diamati secara makroskopik di antaranya adalah; tekstur ofitik (ophytic) atau tekstur diabasik (diabasic).

Tekstur pada batuan beku merupakan pencerminan mineralogi dan proses pembekuan magma atau lava pada tempat pembentukannya. Tekstur fanerik adalah hasil pembekuan yang lambat, sehingga dapat terbentuk kristal yang kasar. Umumnya terdapat pada batuan plutonik. Tekstur afanitik atau berbutir halus, umumnya terdapat pada batuan ekstrusif, yang merupakan hasil pembekuan yang bertahap, dari proses pendinginan yang lambat, dan sebelum keseluruhan magma membeku, kemudian berubah menjadi cepat. Tekstur vesikuler merupakan ciri aliran lava, dimana terjadi lolosnya gas pada saat lava masih mencair, menghasilkan rongga-rongga. Tekstur gelas terjadi karena pendinginan yang sangat cepat tanpa disertai gas, sehingga larutan mineral tidak sempat membentuk kristal (amorf). Tekstur ini umumnya terdapat pada lava.

  1. Klasifikasi batuan beku

Dasar untuk mengelompokan batuan beku yang terutama adalah kriteria tentang komposisi mineral dan tekstur. Kriteria ini tidak saja berguna untuk pemerian batuan, akan tetapi juga untuk menjelaskan asal kejadian batuan.

Banyak sekali klasifikasi yang dapat dipakai, yang penting untuk diketahui untuk kriteria mineralogi adalah ;

  • Kehadiran Mineral Kuarsa

Kuarsa adalah mineral utama pada batuan felsik, dan merupakan mineral tambahan pada batuan menengah atau mafik.

  • Komposisi dari Felspar

K-Felspar dan Na-Felspar adalah mineral-mineral utama pada batuan felsik, tetapi jarang atau tidak terdapat pada batuan menengah atau mafik. Ca-Plagioklas adalah mineral karakteristik batuan mafik.

  • -Proporsi Mineral Feromagnesia (Fe-Mg)

Sebagai batasan umum, batuan mafik kaya akan mineral Fe-Mg, dan batuan felsik kaya akan kwarsa. Olivin umumnya hanya terdapat pada batuan mafik. Piroksen dan amfibol hadir pada batuan mafik sampai menengah. Biotit umumnya terdapat pada batuan menengah sampai felsik.

Kristal dan Mineral

  1. Definisi

Mineral adalah bahan anorganik, terbentuk secara alamiah, seragam dengan komposisi kimia yang tetap pada batas volumenya, dan mempunyai struktur kristal karakteristik yang tercermin dalam bentuk dan sifat fisiknya.

Saat ini telah dikenal lebih dari 2000 mineral. Sebagian merupakan mineral-mineral utama yang dikelompokkan sebagai Mineral Pembentuk Batuan (Rock Forming Mineral).  Mineral-mineral tersebut terutama mengandung unsur-unsur yang menempati bagian terbesar di bumi, antara lain unsur Oksigen (O), Silikon (Si), Aluminium (Al), Besi (Fe), Kalsium (Ca), Sodium (Na), Potasium (K) dan Magnesium (Mg).

  1. Pengenalan mineral

Mineral dapat dikenal dengan menguji sifat fisik umum yang dimilikinya. Sebagai contoh, garam dapur halite (NaCl) dapat dengan mudah dirasakan. Komposisi kimia seringkali tidak cukup untuk menentukan jenis mineral, misalnya mineral grafit (graphite) dan intan (diamond) mempunyai satu komposisi yang sama yaitu karbon (C). Mineral-mineral yang lain dapat terlihat dari sifat fisik seperti bentuk kristal, sifat belahan atau warna, atau dengan peralatan yang sederhana seperti pisau atau potongan gelas dengan mudah diuji kekerasannya.

Mineral dapat dipelajari dengan seksama dengan mendeskripsikan potongan (hand specimen) dari mineral, atau batuan dimana dia terdapat, dengan menggunakan lensa pembesar (hand lens/loupe), dan mengujinya dengan alat lain, seperti pisau, kawat baja, potongan gelas atau porselen dan cairan asam (misalnya HCl). Mineral juga dipelajari lebih lanjut sifat fisik dan sifat optiknya dalam bentuk preparat sayatan tipis (thin section) dengan ketebalan 0,03 mm, dibawah mikroskop polarisasi.

  1. Sifat-sifat mineral

Bentuk Kistal dan Perawakan (Crystal Habit)

Suatu kristal dibatasi permukaan (sisi kristal) yang mencerminkan struktur dalam dari mineral. Bentuk kristal merupakan kumpulan dari sisi-sisi yang membentuk permukaan luar kristal. Sifat simetri kristal adalah hubungan geometri antara sisi-sisinya, yang merupakan karakteristik dari tiap mineral. Satu mineral yang sama selalu menunjukkan hubungan menyudut dari sisi-sisi kristal yang disebut sebagai sudut antar sisi (constancy of interfacial angles), yang merupakan dasar dari sifat simetri. Bentuk kristal ditentukan berdasarkan sifat-sifat simetrinya yaitu, bidang simetri dan sumbu simetri.

Dikenal tujuh bentuk kristal yaitu ; Kubus (Cubic), Tetragonal, Hexagonal, Trigonal, Ortorombik (Orthorhombic), Monoklin (Monoclinic), dan Triklin (Triclinic).

Beberapa mineral umumnya berupa bentuk kristal yang terdiri dari kristal tunggal atau rangkaian kristal, yang dikenal istilahnya sebagai perawakan (crystal habit).

Warna dan Gores (Streak)

Warna dari mineral adalah warna yang terlihat di permukaan yang bersih dan sinar yang cukup. Suatu mineral dapat berwarna terang, transparan (tidak berwarna atau memperlihatkan warna yang berangsur atau berubah). Warna sangat berariasi, umumnya karena perbedaan kompisisi kimia atau pengotoran pada mineral.

Gores (streak) adalah warna dari serbuk mineral. Terlihat bila mineral digoreskan pada lempeng kasar porselen meninggalkan warna goresan. Untuk mineral-mineral logam gores dapat dipakai sebagai petunjuk.

Kilap (Luster)

Kilap adalah kenampakan hasil pantulan cahaya pada permukaan mineral. Ini akan tergantung pada kualitas fisik permukaan (kehalusan dan trasparansi).

Belahan (Cleavage)

Belahan adalah kecenderungan dari beberapa kristal mineral untuk pecah melalui bidang lemah yang terdapat pada struktur kristalnya. Arah belahan ini umumnya sejajar dengan satu sisi-sisi kristal. Kesempurnaan belahan dideskripsikan dalam istilah sempurna, baik, cukup atau buruk.

Sifat pecah adakalanya tidak berhubungan dengan struktur kristal, atau mineral tersebut pecah tidak melalui bidang belahannya, yang disebut sebagai rekahan (fracture). Beberapa sifat rekahan karakteristik, misalnya pada kwarsa membentuk lengkungan permukaan yang kosentris (conchoidal fracture). Beberapa istilah lain adalah, serabut (fibrous) pada asbes, hackly, even (halus), uneven (kasar), earhty, pada mineral yang lunak misalnya kaolinit.

Kekerasan (Hardness)

Kekerasan mineral adalah ketahanannya terhadap kikisan. Kekerasan ini ditentukan dari dengan cara menggoreskan satu mineral yang tidak diketahui denga mineral lain yang telah diketahui. Dengan cara ini Mohs membuat skala kekerasan relatif dari mineral-mineral, dari yang paling lunak hingga yang paling keras. Untuk pemakaian praktis, dapat digunakan kuku (± 2,5), jarum tembaga (± 3,5), pisau silet (5 – 5,5), pecahan kaca (± 5,5) dan kawat baja dengan kekerasan (± 6,5).

Densitas (Specific Gravity)

Densitas mineral dapat diukur dengan sederhana di labolatorium bila kristal tersebut tidak terlalu kecil. Hubungan ini dinyatakan sebagai berikut :

Spesific Gravity (SG) = W1 / (W1 – W2)

W1 = berat butir mineral di udara

W2 = berat butir mineral di dalam air

Di lapangan agak sulit menentukan dengan pasti biasanya dengan perkiraan; berat, sedang atau ringan. Beberapa mineral yang dapat dipakai sebagai perbandingan misalnya :

  • Silikat, Karbonat, Sulfat, dan Halida SG berkisar antara 2,2 – 4,0.
  • Bijih logam, termasuk Sulfida, dan Oksida berkisar antara 4,5 – 7,5.
  • Native element (logam), Emas dan Perak umumnya termasuk logam berat.

Transparansi (Transparency)

Transparansi merupakan kemampuan (potongan pipih) mineral untuk meneruskan cahaya. Suatu obyek terlihat jelas melalui cahaya yang menembus potongan mineral yang transparan. Bila obyek tersebut terlihat secara samar, dipakai istilah transculent.

Keliatan (Tenacity)

Keliatan adalah tingkat ketahanan mineral untuk hancur atau melentur.

Reaksi dengan asam  

Beberapa mineral akan bereaksi bila ditetesi dengan asam hidroklorit (HCl).  Pada kalsit terbentuk gelembung-gelembung CO2, dan pada beberapa sulfida bijih terbentuk H2S.

Sifat lain untuk beberapa mineral misalnya rasa (taste), sifat refraksi ganda, dan sifat kemagnetan. Dalam pengenalan mineral sering digunakan asosiasi mineral untuk mengenal jenis mineral yang lain. Beberapa mineral dapat bersamaan, dan adakalanya tidak pernah ditemukan dengan mineral lain.

  1. Klasifikasi mineral

Mineral Silikat

Mineral silikat merupakan bagian terbesar dari mineral pembentuk batuan. Mineral ini merupakan kombinasi unsur-unsur utama yang terdapat di bumi ; O, Si, Al, Fe, Ca, Na, K, Mg. Perbedaan yang mudah dapat dilihat dari contoh potongan dari dua mineral dalam batuan adalah warna, yaitu terang dan gelap. Pengelompokan sederhana ini merupakan dasar yang berguna, karena terdapat hubungan empiris antara warna, kompisisi mineral, serta peranan individu dalam kristalisasi dan pembentukan batuan.

Mineral Silikat Gelap

Kelompok mineral ini umumnya memiliki kilap vitrous sampai dull.

Olivin ((Mg, Fe) K2SiO4)  adalah mineral yang terbentuk pada temperatur tinggi, mengkristal paling awal. Dalam batuan seringkali dijumpai tidak sempurna karena pelarutan oleh magma sekitarnya sebelum pemadatan selesai. Pengaruh kandungan air yang cukup besar setelah atau saat konsolodasi menyebabkan olivin ber-alterasi ke serpentin.

Serpentin berwarna hijau, SG = 2,6, H = 3,5, pembentukannya melibatkan pembesaran volume dari olivin asalnya, sehingga pada beberapa batuan basa seringkali timbul retakan-retakan dan melemahkan struktur batuan. Kehadiran serpentin merubah sifat fisis batuan beku yang banyak mengandung olivin. Beberapa batuan yang baik untuk pelapis jalan (dolerit, basalt, gabro) yang mengandung olivin, dan derajat altrasinya sebaiknya diperiksa.

Piroksen (X2Y2O6) dengan X : Ca, Fe atau Mg, dan Y : Si atau Al. Mineral ini banyak jenisnya yang terpenting dalam batuan beku adalah Augit. Augit mengandung silika dengan presentasi relatif rendah, seringkali terdapat bersamaan dengan olivin. Pengaruh air menyebabkan alterasi menjadi Klorit (chlorite), mineral yang mirip dengan serpentin. Mineral-mineral ini jarang pada batuan sedimen, umum merupakan mineral batuan Metamorf.

Hornblende (X2-3Y5Z8O22(OH)2) dengan X : Ca, Y : Mg atau Fe, dan Z : Si atau Al. Hornblende mengandung silikat cukup banyak. Kristalisasinya dari magma mengandung komponen air (disebut mineral basah), dan kemungkinan beralterasi menjadi klorit bila kandungan air cukup banyak. Mineral ini sangat tidak stabil pada kondisi permukaan (pelapukan).

Biotit (K(Mg,Fe)6Si6Al2O20(OH)4) merupakan bagian dari kelompok mineral mika (Mica Group) yang berwarna gelap. Ikatan mineral ini sangat lemah, sangat mudah membelah sepanjang bidang kristalnya. Mengkristal dari magma yang mengandung air pada batuan beku yang banyak mengandung silika, juga pada batuan sedimen dan metamorf. Dapat beralterasi menjadi klorit. Biotit dimanfaatkan untuk bahan isolasi pada peralatan listrik, bila kristalnya cukup besar.

Garnet (R3,Al2Si3O12) dengan R mungkin Fe, Mg, Ca, Mn, Cr, dll. Terdapat pada batuan metamorf. Kriteria untuk mengenalnya terutama adalah kekerasannya menyamai kwarsa dan hampir tidak ada belahan. Mineral ini digunakan sebagai bahan kertas yang cukup baik, dengan memanfaatkan butirannya.

Mineral Silikat Terang  

Beberapa sifat penting dari mineral-mineral ini ditunjukkan pada penjelasan di bawah :

Felspar, dibagi dalam dua jenis utama ; Felspar ortoklas (Orthoclase feldspar) atau K feslpar, KAlSi3O8 dan Felspar plagioklas (Plagioclase feldspar), (Na-Ca) Si3O8-CaAl-Si3O8. Felspar ortoklas terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Felspar plagioklas merupakan kandungan utama yang penting dan dipakai sebagai dasar klasifikasi batuan beku.

Mineral Lempung terbentuk dari hasil alterasi dari mineral lain, sebagai contoh hasil alterasi felspar dengan hadirnya air.

Ortoklas berubah menjadi Kaolin : Al2Si2O5(OH)4 bila K (K-hidroksida) dipindah oleh reaksi dengan air. Ortoklas + air = Kaolin + silika + K

Perubahan menjadi Illite : Al2Si2O5(OH)4 bila K tidak dipindah secara keseluruhan.

Ortoklas + air = Illite + K

Plagioklas baralterasi menjadi Montmorilonite  2H + 2Al2(AlSi3)O10(OH)2 : plagioklas + air = Montmorilonite + Ca hidroksida.

Kandungan air yang cukup besar dapat merubah montmorilonite menjadi kaolin. Dalam beberapa hal kaolin merupakan hasil akhir, misalnya, pada proses pelapukan.

Mineral lempung dimanfaatkan dibanyak tempat. Kaolin digunakan sebagai bahan industri keramik. Montmorilonite dimanfaatkan kandungan bentonite nya.

Kuarsa (SiO2) tidak berwarna bila murni penambahan zat lain akan merubah warna beragam, misal hadirnya “mangan” memberi warna kemerahan (rose quartz) besi menjadi ungu (amethyst), dan merah coklat (jasper) tergantung pada kandungan kombinasi dengannya. Jenis silika yang lain Kalsedon (Chalcedonic silica) Chert, Flint, Opal, dan Agate.

Kuarsa dijumpai pada batuan yang kaya akan silika misalnya granit, juga didapat bersama mineral lain, termasuk bijih. Kuarsa digunakan sebagai bahan gelas dan untuk indusri alat-alat listrik.

Muskovit K2Al4Si6Al2O20(OH)4  termasuk kelompok mika yang hampir sama dengan biotit. Terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Digunakan sebagai bahan isolasi panas atau listrik. Muskovit terdapat juga pada batuan sedimen dan metamorf. Seperti jenis mika lainnya, muskovit beralterasi menjadi montmorilonite.

Mineral Non Silikat

Secara garis besar hampir semua mempunyai komposisi kimia yang sederhana ; berupa unsur, sulfida (bila unsur logam bersenyawa dengan sulfur), atau oksida (bila unsur logam bersenyawa dengan oksigen). Native element seperti tembaga, perak atau emas agak jarang terdapat. Sulfida kecuali Pirit, tidak jarang ditemukan, tetapi hanya cukup berarti bila relatif terkonsentrasi dalam urat (vein) dengan cukup besar.

Pirit berbentuk kubus, terdapat dibatuan beku yang kaya silika. Pirit pernah dimanfaatkan untuk diambil sulfurnya.

Magnetit terdapat dihampir semua batuan beku, juga batuan metamorf sering kali berasosiasi dengan kholrit. Pada batuan sedimen, mineral-mineral ini dijumpai sebagai butiran yang terkonsentrasi secara ilmiah karena densitas yang berbeda, kadang-kadang juga karena adanya kandungan besi pada endapan.

Hematit, terdapat dari hampir semua batuan, juga terkosentrasi dalam bentuk urat, membentuk jebakan yang ekonomis. Pada batupasir sering kali berfungsi sebagai semen.

Limonit dan Geotit terbentuk oleh kombinasi oksida besi dan air.

Mineral Non Logam

Mineral yang paling umum dijumpai adalah karbonat, sebagian besar kalsit, gipsum ; yaitu kalsium sulfat. Semuanya berwarna putih atau tak berwarna. Sering dijumpai dalam bentuk urat bersama bijih logam, umumnya bernilai ekonomis dan hanya sebagai gangue mineral. Gipsum dan asosiasi mineral sulfat, andhidrit, keduanya didapatkan dengan batugaram (halite) pada endapan yang terbentuk karena penguapan garam-garam air laut. Nama yang umum dipakai adalah Kelompok Evaporite, Gipsum, andhidrit dan halit digunakan bahan industri kimia, bahan bangunan dll. Kalsit adalah mineral yang penting dalam batugamping dan juga terdapat di banyak sedimen. Merupakan unsur mineral yang prinsip dalam marmer dan juga terdapat dalam urat sebagai gangue mineral (mineral sampah) bersama kuarsa, barit, dan fluorit.

Tentang Ilmu Geologi

  1. Definisi dan ruang lingkup geologi

Kata geologi berasal dari kata latin, gea berarti bumi, dan logos berarti ilmu. Geologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman tentang bumi. Geologi merupakan ilmu yang mempelajari bumi sebagai obyek utama, dan sebagian besar berhubungan dengan bagian terluar dari bumi yaitu kerak bumi.

Geologi meliputi studi tentang mineral, batuan, fosil, tidak hanya sebagai obyek, tetapi menyangkut penjelasan tentang sejarah pembentukannya. Geologi juga mempelajari dan menjelaskan gambaran fisik serta proses yang berlangsung dipermukaan dan dibawah permukaan bumi, pada saat sekarang dan juga pada masa lalu. Geologi fisik didalam hal ini merupakan dasar untuk mempelajari kesemuanya ini, dengan dimulai mempelajari unsur utama, yaitu batuan sebagai penyusun kerak bumi, mengenal proses pembentukannya, serta menjelaskan kehadiran serta sifat-sifat fisiknya di bumi.

  1. Cabang ilmu geologi

Ilmu geologi mempunyai ruang lingkup sangat luas, yang didalam pengkajiannya lebih dalam berkembang sebagai cabang ilmu yang bersifat lebih khusus dan terinci.

Petrologi  adalah studi tentang batuan, asal mula kejadiannya, terdapatnya serta penjelasan lingkungan pembentukannya. Disiplin ini akan berhubungan dengan studi tentang mineral (mineralogi) dan bentuk-bentuk kristal dari mineral (kristalografi).

Stratigrafi adalah studi tentang urutan perlapisan pada batuan, membahas tentang hubungannya dan proses-proses sedimentasinya (sedimentologi) serta sejarah perkembangan cekungan sedimentasinya.

Paleontologi adalah studi tentang fosil dan aspek kehidupan purba yang terekam didalam batuan. Studi ini akan membahas tentang lingkungan pembentukan batuan, umur relatif, serta menjelaskan keadaan dan proses yang terjadi pada masa lalu (paleogeografi).

Geologi struktur adalah studi tentang bentuk batuan dan kerak bumi, sebagai hasil dari proses perubahan (deformasi) akibat tektonik, yaitu proses gerak yang terjadi didalam bumi.

Didalam perkembangannya, geologi sebagai dasar dari ilmu kebumian, sangat berhubungan dengan ilmu dasar yang lain yaitu ilmu-ilmu fisika dan kimia. Geofisika adalah ilmu yang membahas tentang sifat-sifat fisika dari bumi, mempelajari parameter fisika, menerapkan hukum dan teori fisika untuk menjelaskan tentang proses yang terjadi di bumi. Demikian pula Geokimia, beberapa sifat kimia dari batuan dan kerak bumi dipelajari lebih lanjut dengan prinsip dan teori kimia untuk dapat menjelaskan proses kejadiannya.

Selain itu geologi berhubungan dengan ilmu sebagai dasar ilmu terapan misalnya, dibidang pertambangan (Geologi pertambangan), perminyakan (Geologi Minyak), teknik sipil (Geologi Teknik), hidrologi (Hidrogeologi),  lingkungan (Geologi Lingkungan) dan sebagainya.

Siswa Madrasah Raih 20 Medali Olimpiade Sains Nasional 2017

Pekanbaru (Kemenag) — Siswa madrasah meraih 20 medali pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pekanbaru, Riau.

Ditemui di venue penutupan, Kepala MAN IC Serpong Persahini Sidik menjelaskan, medali yang diraih siswa madrasah pada OSN tahun ini terdiri dari 5 emas dan 1 the best practice, 4 perak, dan 10 perunggu. “Perolehan medali emas tahun ini lebih banyak dibanding OSN 2016. Saat itu, siswa madrasah hanya meraih dua medali emas,” ujarnya di Pekanbaru, Jumat (07/07).

Perhelatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tahun 2017 di Pekanbaru Riau usai. Ajang yang berlangsung sejak 2 Juli, ditutup sore ini, Jumat (07/07) ditutup secara resmi oleh Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Riau menyerahkan cideramata dan bendera OSN kepada Dirjen Pembinaan SMA. Sementara Dirjen Pembinaan SMA, Edi Purwanto, selaku ketua Panitia menyerahkan bendera OSN ke Gubernur Sumatera Barat. OSN 2018 rencananya akan dilaksanakan di Padang.

Penutupan OSN digelar di Gedung Olah Raga (GOR) Pekanbaru. Dalam laporannya, Edi Purwanto menyampaikan bahwa OSN 2017 diikuti 1280 peserta dengan rincian: SD/MI sebanyak 204, SMP/MTs sebanyak 496 dan SMA/MA sebanyak 680. Total peserta, juri dan guru pendamping berjumlah 2024 orang.

Berikut ini data siswa madrasah peraih medali pada OSN 2017:

Peraih The Best Practice:
Abdullah Muqaddam,  bidang Kimia (MAN IC Serpong)

Peraih Medali Emas
1. Abdullah Muqaddam,  bidang Kimia (MAN IC Serpong)
2. Lugas Firnand Hamdi, bidang IPA (MTsN 1 Malang)
3. Naufal Prima Yoriko bidang Astronomi (MAN IC Serpong)
4. Muhammad Zaki Darojat, bidang Kimia (MAN 3 Malang)
5. Akmal Tsani Rachmatullah, bidang Astronomi (MAN 3 Malang)

Peraih Medali Perak
1. M. Dwi Arwinda, bidang Astronomi (MAN 3 Malang)
2. Abdurrafi’ Syauqy, bidang Fisika (MAN IC Serpong)
3. Narizka Nanda Purwadani, bidang Astronomi (MAN IC Serpong)
4. Mubarok Alfa Rizqi, bidang Kimia (MAN IC Serpong)

Peraih Medali Perunggu 
1. M. Raihan Agis Pradana, Bidang Kimia (MAN 3 Malang)
2. Baihaqi. A. Khatim, bidang Kebumian  (MAN 3 Malang)
3. Nuzula Qurrata A’yunin bidang Kebumian (MAN 3 Malang)
4. M. Refindo Azhar, bidang Komputer (MAN 3 Malang)
5. M. Sholehudin, bidang Geografi (MAN 3 Malang)
6. Muh. Haydar Irfan, bidang Geografi (MAN IC Gorontalo)
7. Muhamamd Aqil Wijaya Faradis, bidang Biologi (MAN IC Serpong)
8. Taqya Izdihar Muhanandi, bidang Biologi (MAN IC Serpong)
9. Syam Mega Putri Bidang Fisika (MAN 1 Pekanbaru)
10. Muhammad Fajar bidang Ekonomi (MAN 2 Model Pekanbaru). (kemenag.go.id, 7/7/2017)

6 Orang Tewas Akibat Banjir Besar di Jepang

Tokyo – Sedikitnya enam orang tewas akibat banjir besar yang menerjang wilayah Jepang bagian barat daya. Ribuan petugas penyelamat menyisir timbunan batang kayu dan lumpur yang dibawa oleh banjir yang dipicu hujan deras ini.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (7/7/2017), nyaris 80 ribu warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Hujan deras yang terus mengguyur memicu peringatan bahaya tanah longsor di beberapa wilayah.

Hujan deras mengguyur sebagian wilayah Fukuoka, Pulau Kyushu dengan curah mencapai 593 mm selama 48 jam berturut-turut, hingga Jumat (7/7) pagi pukul 09.00 waktu setempat. Badan Meteorologi Jepang (JMA) memprediksi hujan akan terus turun meskipun peringatan darurat telah dicabut.

Dituturkan otoritas setempat, sedikitnya enam orang tewas dan sekitar 22 orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

The picture shows an areal view of flooded Asakura City, Fukuoka prefecture, on July 6, 2017. One person reportedly died and at least 18 are missing, after huge floods swept away houses in southern Japan, tearing up roads as they surged through villages, with authorities warning hundreds of thousands of people to flee. / AFP PHOTO / JIJI PRESS / STR / Japan OUT

Kota Asakura yang berada di Prefektur Fukuoka, menjadi kota yang terdampak paling parah. Otoritas setempat memerintahkan 80 ribu warga setempat untuk dievakuasi. Jumlah itu jauh lebih sedikit saat hujan deras mengguyur pada puncaknya, yang membuat 400 ribu orang dievakuasi.

“Awalnya, hujan tidak terlalu deras. Tapi mereka membahas soal hujan yang memecahkan rekor dan mulailah hujan turun dengan deras, kemudian mereka mulai menutup jalan. Kami melihat ke luar dan jalanan sudah menjadi seperti sungai,” terang Sumie Umeyo, salah satu warga kota Asakura.

Sekitar 12.300 tentara, polisi dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk membantu pencarian dan penyelamatan korban. Timbunan potongan kayu bercampur lumpur memenuhi beberapa sudut kota tersebut.

JMA menyebut, hujan deras ini melebihi catatan curah hujan normal untuk bulan Juli. Hujan yang terlampau deras ini disebabkan oleh tekanan rendah di perairan Pasifik, yang bertemu dengan udara hangat dan lembab di pinggiran Jepang yang sedang musim penghujan. (news.detik.com, 7/7/2017)