Hujan “Misterius” di Tebet

HUJAN yang hanya mengguyur satu unit rumah di Tebet, Sabtu (26/8), seperti terus menyisakan misteri. Ahli meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Wahyu Hadi, menyebut fenomena itu sulit dijelaskan dan cenderung tidak mungkin terjadi.

“Biasanya kalau hujan lokal sekali, kalau durasinya pendek itu mungkin saja. Kalau enam jam, itu agak sulit dijelaskan dari sisi meteorologi,” katanya, Selasa (29/8).

Hujan “eksklusif” itu hanya meng­guyur rumah milik Muzakir, Sabtu (26/8), menjelang magrib sampai ham­pir tengah malam atau selama hampir enam jam. Menurut Tri, itu tidak mungkin terjadi.

“Itu hampir tidak mungkin dari sisi meteorologi,” ucap dosen meteo­rologi dari Fakultas Ilmu dan Tekno­logi Kebumian (FITB) ITB ini.

Dijelaskannya, sebenarnya ada fenomena virga, yakni hujan dalam durasi singkat yang sudah lebih dahulu menguap sebelum menyentuh tanah. “Itu karena tetes hujannya tidak banyak dan misalkan ada aliran udara yang naik,” jelasnya.

Namun, dia meyakini hujan eks­klu­sif di Tebet bukanlah virga karena durasinya yang mencapai berjam-jam. Seharusnya ada pengukuran yang lebih akurat untuk mendapatkan data curah hujan di lokasi tersebut.

“Kalau 6 jam terus-terusan, bisa banjir. Kalau warga tidak lihat ada aliran air ke selokan ke sekelilingnya, ya agak aneh,” ungkapnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri masih heran atas fenomena hujan lokal di satu rumah di Tebet, Jakarta Selatan. Secara ilmiah, hujan itu tak mungkin terjadi.

“Jadi, melihatnya, BMKG, dari beberapa hal syarat pembentukan dan pertumbuhan awan hujan dimulai dari penguapan. Syarat kedua adalah awan­nya. Dari penguapan terbentuk awan, dari awan kondisi suhu seki­tarnya, panas apa tidak, kelem­ba­pannya kering atau tidak,” kata Kepala Humas BMKG Hary Tirto, Senin (28/8).

“Kalau melihat kondisi kemarin, sekitarnya, kelembapan tidak meme­nuhi syarat untuk pembentukan dan pertumbuhan hujan. Di­tambah lagi, satu lagi, anginnya relatif di atas rata-rata, itu juga tidak memenuhi pem­ben­tukan dan pertumbuhan awan hujan,” tambahnya.

Dengan melihat fakta embusan angin yang kencang saja, Hary me­ngatakan hujan eksklusif di satu ru­mah di Tebet itu tak masuk akal. Ber­bagai parameter yang ada tak men­dukung terjadinya hujan itu.

“Secara ilmiah, alur pikirnya tidak masuk di akal, dan kondisi secara parameter-parameter cuaca­nya tidak memenuhi syarat,” ujarnya.

Kepala Pusat Informasi Me­teorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo menye­but hal itu sebagai fenomena langka dan sulit terjadi. Jika dilihat dari skala ruang dan waktu, hujan yang meng­guyur satu rumah di Tebet sulit terjadi. Apalagi melihat dimensi rumah yang hanya berukuran 5×5 meter.

Selain itu, tambahnya, un­tuk hujan lokal saja cakupan wilayahnya terjadi cukup be­sar. Durasi waktu hujan juga tidak terlalu lama seperti yang terjadi di Tebet yakni mulai sekitar pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB.

Disangka orang iseng

Hujan itu terjadi di Jalan Tebet Barat Dalam 1, Jakarta Selatan, Sabtu (26/8). Kabar mengenai hujan tak masuk akal itu diunggah oleh akun Twitter @febicil dan menjadi viral di media sosial.

Di lokasi kejadian, Senin (28/8), Diaz, warga yang ting­gal di depan rumah terse­but membenarkan fenomena ini. Dia menceritakan, hujan itu berlangsung pukul 18.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Pemilik rumah, Muzakir, me­nyebut saat hujan itu tu­run, dia sedang duduk-duduk di teras sambil bermain catur bersama tetangga. Tiba-tiba ada teriakan di dalam rumah.

Sempat dikira kerjaan orang iseng. Percaya tidak per­caya, rupanya hujan itu tak kunjung berhenti hingga te­ngah malam. Rumah Muza­kir lalu didatangi para tetang­ganya hingga ojek online yang penasaran.

“Tetangga juga sudah ra­mai datang. Ada yang perca­ya dan nggak percaya. Ya, silakan saja. ‘Kan bebas ya orang menafsirkan apa saja. Ada yang (mengira) mung­kin ka­re­na torang (penampu­ngan air) bocor, tapi ‘kan sampai malam. Sempat juga hujannya bergeser ke kanan ke arah tiang listrik,” ucap­nya.

Hujan itu juga dianggap misterius karena cuma ter­jadi di area rumah Muzakir seluas 5 x 5 meter. Dia juga bercerita banyak warga yang menggu­nakan air itu untuk mandi dan menyimpan air tersebut. (harian.analisadaily.com, 30/8/2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *