Tentang Ilmu Geologi

  1. Definisi dan ruang lingkup geologi

Kata geologi berasal dari kata latin, gea berarti bumi, dan logos berarti ilmu. Geologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman tentang bumi. Geologi merupakan ilmu yang mempelajari bumi sebagai obyek utama, dan sebagian besar berhubungan dengan bagian terluar dari bumi yaitu kerak bumi.

Geologi meliputi studi tentang mineral, batuan, fosil, tidak hanya sebagai obyek, tetapi menyangkut penjelasan tentang sejarah pembentukannya. Geologi juga mempelajari dan menjelaskan gambaran fisik serta proses yang berlangsung dipermukaan dan dibawah permukaan bumi, pada saat sekarang dan juga pada masa lalu. Geologi fisik didalam hal ini merupakan dasar untuk mempelajari kesemuanya ini, dengan dimulai mempelajari unsur utama, yaitu batuan sebagai penyusun kerak bumi, mengenal proses pembentukannya, serta menjelaskan kehadiran serta sifat-sifat fisiknya di bumi.

  1. Cabang ilmu geologi

Ilmu geologi mempunyai ruang lingkup sangat luas, yang didalam pengkajiannya lebih dalam berkembang sebagai cabang ilmu yang bersifat lebih khusus dan terinci.

Petrologi  adalah studi tentang batuan, asal mula kejadiannya, terdapatnya serta penjelasan lingkungan pembentukannya. Disiplin ini akan berhubungan dengan studi tentang mineral (mineralogi) dan bentuk-bentuk kristal dari mineral (kristalografi).

Stratigrafi adalah studi tentang urutan perlapisan pada batuan, membahas tentang hubungannya dan proses-proses sedimentasinya (sedimentologi) serta sejarah perkembangan cekungan sedimentasinya.

Paleontologi adalah studi tentang fosil dan aspek kehidupan purba yang terekam didalam batuan. Studi ini akan membahas tentang lingkungan pembentukan batuan, umur relatif, serta menjelaskan keadaan dan proses yang terjadi pada masa lalu (paleogeografi).

Geologi struktur adalah studi tentang bentuk batuan dan kerak bumi, sebagai hasil dari proses perubahan (deformasi) akibat tektonik, yaitu proses gerak yang terjadi didalam bumi.

Didalam perkembangannya, geologi sebagai dasar dari ilmu kebumian, sangat berhubungan dengan ilmu dasar yang lain yaitu ilmu-ilmu fisika dan kimia. Geofisika adalah ilmu yang membahas tentang sifat-sifat fisika dari bumi, mempelajari parameter fisika, menerapkan hukum dan teori fisika untuk menjelaskan tentang proses yang terjadi di bumi. Demikian pula Geokimia, beberapa sifat kimia dari batuan dan kerak bumi dipelajari lebih lanjut dengan prinsip dan teori kimia untuk dapat menjelaskan proses kejadiannya.

Selain itu geologi berhubungan dengan ilmu sebagai dasar ilmu terapan misalnya, dibidang pertambangan (Geologi pertambangan), perminyakan (Geologi Minyak), teknik sipil (Geologi Teknik), hidrologi (Hidrogeologi),  lingkungan (Geologi Lingkungan) dan sebagainya.

Siswa Madrasah Raih 20 Medali Olimpiade Sains Nasional 2017

Pekanbaru (Kemenag) — Siswa madrasah meraih 20 medali pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pekanbaru, Riau.

Ditemui di venue penutupan, Kepala MAN IC Serpong Persahini Sidik menjelaskan, medali yang diraih siswa madrasah pada OSN tahun ini terdiri dari 5 emas dan 1 the best practice, 4 perak, dan 10 perunggu. “Perolehan medali emas tahun ini lebih banyak dibanding OSN 2016. Saat itu, siswa madrasah hanya meraih dua medali emas,” ujarnya di Pekanbaru, Jumat (07/07).

Perhelatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tahun 2017 di Pekanbaru Riau usai. Ajang yang berlangsung sejak 2 Juli, ditutup sore ini, Jumat (07/07) ditutup secara resmi oleh Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Riau menyerahkan cideramata dan bendera OSN kepada Dirjen Pembinaan SMA. Sementara Dirjen Pembinaan SMA, Edi Purwanto, selaku ketua Panitia menyerahkan bendera OSN ke Gubernur Sumatera Barat. OSN 2018 rencananya akan dilaksanakan di Padang.

Penutupan OSN digelar di Gedung Olah Raga (GOR) Pekanbaru. Dalam laporannya, Edi Purwanto menyampaikan bahwa OSN 2017 diikuti 1280 peserta dengan rincian: SD/MI sebanyak 204, SMP/MTs sebanyak 496 dan SMA/MA sebanyak 680. Total peserta, juri dan guru pendamping berjumlah 2024 orang.

Berikut ini data siswa madrasah peraih medali pada OSN 2017:

Peraih The Best Practice:
Abdullah Muqaddam,  bidang Kimia (MAN IC Serpong)

Peraih Medali Emas
1. Abdullah Muqaddam,  bidang Kimia (MAN IC Serpong)
2. Lugas Firnand Hamdi, bidang IPA (MTsN 1 Malang)
3. Naufal Prima Yoriko bidang Astronomi (MAN IC Serpong)
4. Muhammad Zaki Darojat, bidang Kimia (MAN 3 Malang)
5. Akmal Tsani Rachmatullah, bidang Astronomi (MAN 3 Malang)

Peraih Medali Perak
1. M. Dwi Arwinda, bidang Astronomi (MAN 3 Malang)
2. Abdurrafi’ Syauqy, bidang Fisika (MAN IC Serpong)
3. Narizka Nanda Purwadani, bidang Astronomi (MAN IC Serpong)
4. Mubarok Alfa Rizqi, bidang Kimia (MAN IC Serpong)

Peraih Medali Perunggu 
1. M. Raihan Agis Pradana, Bidang Kimia (MAN 3 Malang)
2. Baihaqi. A. Khatim, bidang Kebumian  (MAN 3 Malang)
3. Nuzula Qurrata A’yunin bidang Kebumian (MAN 3 Malang)
4. M. Refindo Azhar, bidang Komputer (MAN 3 Malang)
5. M. Sholehudin, bidang Geografi (MAN 3 Malang)
6. Muh. Haydar Irfan, bidang Geografi (MAN IC Gorontalo)
7. Muhamamd Aqil Wijaya Faradis, bidang Biologi (MAN IC Serpong)
8. Taqya Izdihar Muhanandi, bidang Biologi (MAN IC Serpong)
9. Syam Mega Putri Bidang Fisika (MAN 1 Pekanbaru)
10. Muhammad Fajar bidang Ekonomi (MAN 2 Model Pekanbaru). (kemenag.go.id, 7/7/2017)

6 Orang Tewas Akibat Banjir Besar di Jepang

Tokyo – Sedikitnya enam orang tewas akibat banjir besar yang menerjang wilayah Jepang bagian barat daya. Ribuan petugas penyelamat menyisir timbunan batang kayu dan lumpur yang dibawa oleh banjir yang dipicu hujan deras ini.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (7/7/2017), nyaris 80 ribu warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Hujan deras yang terus mengguyur memicu peringatan bahaya tanah longsor di beberapa wilayah.

Hujan deras mengguyur sebagian wilayah Fukuoka, Pulau Kyushu dengan curah mencapai 593 mm selama 48 jam berturut-turut, hingga Jumat (7/7) pagi pukul 09.00 waktu setempat. Badan Meteorologi Jepang (JMA) memprediksi hujan akan terus turun meskipun peringatan darurat telah dicabut.

Dituturkan otoritas setempat, sedikitnya enam orang tewas dan sekitar 22 orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

The picture shows an areal view of flooded Asakura City, Fukuoka prefecture, on July 6, 2017. One person reportedly died and at least 18 are missing, after huge floods swept away houses in southern Japan, tearing up roads as they surged through villages, with authorities warning hundreds of thousands of people to flee. / AFP PHOTO / JIJI PRESS / STR / Japan OUT

Kota Asakura yang berada di Prefektur Fukuoka, menjadi kota yang terdampak paling parah. Otoritas setempat memerintahkan 80 ribu warga setempat untuk dievakuasi. Jumlah itu jauh lebih sedikit saat hujan deras mengguyur pada puncaknya, yang membuat 400 ribu orang dievakuasi.

“Awalnya, hujan tidak terlalu deras. Tapi mereka membahas soal hujan yang memecahkan rekor dan mulailah hujan turun dengan deras, kemudian mereka mulai menutup jalan. Kami melihat ke luar dan jalanan sudah menjadi seperti sungai,” terang Sumie Umeyo, salah satu warga kota Asakura.

Sekitar 12.300 tentara, polisi dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk membantu pencarian dan penyelamatan korban. Timbunan potongan kayu bercampur lumpur memenuhi beberapa sudut kota tersebut.

JMA menyebut, hujan deras ini melebihi catatan curah hujan normal untuk bulan Juli. Hujan yang terlampau deras ini disebabkan oleh tekanan rendah di perairan Pasifik, yang bertemu dengan udara hangat dan lembab di pinggiran Jepang yang sedang musim penghujan. (news.detik.com, 7/7/2017)

Endapan Plaser

Dalam geologi, endapan plaser ialah akumulasi mineral ekonomis yang terpisah secara alamiah oleh pengaruh gravitasi selama proses sedimentasi. Placer berasal dari bahasa Spanyol yang berarti alluvial sand. Penambangan plaser merupakan sumber utama diperolehnya emas dan merupakan cara yang utama digunakan pada tahun-tahun awal gold rush. Endapan plaser ada yang disebut alluvium, eluvium, plaser pantai, dan paleoplaser.

Material endapan plaser harus memenuhi 2 syarat, yaitu memiliki massa jenis yang besar dan resisten terhadap proses pelapukan. Partikel mineral plaser harus memiliki densitas yang lebih besar daripada kuarsa (2,65), sebagai partikel dominan material pasir dan gravel.  Endapan plaser umumnya mengandung black sand, yang merupakan campuran dari oksida besi berwarna hitam, kebanyakan berupa magnetite dengan ilmenite dan hematite yang jumlahnya bervariasi. Komponen mineral ekonomis yang sering ditemukan bersama black sand ialah monazite, rutile, zircon, chromite, wolframite, dan cassiterite.

Mineral ekonomis lain yang ditambang dari endapan plaser di antaranya:

  • Intan
  • Emas
  • Garnet
  • Besi, dari pasir besi yang mengandung magnetite dalam konsentrasi tinggi
  • Logam kelompok platina
  • Quartz Monazite Sands
  • Unsur tanah jarang, dari mineral monazite
  • Ruby
  • Sapphire
  • Thorium, dari mineral monazite
  • Timah, dari mineral cassiterite
  • Titanium, dari mineral ilmenite dan rutile
  • Uranium, dari paleoplacer berumur Prakambrium
  • Zirconium, dari mineral zircon

Alluvial placers terbentuk pada endapan sungai. Posisi keterdapatan placer emas ialah di bagian dalam lengkungan sungai atau anak sungai, di lembah, pada slopebreak sungai, pada dasar gawir, air terjun, atau jenis penghalang yang lain.

Alluvial placers terbentuk melalui deposisi partikel berat pada suatu titik yang kecepatan arusnya di bawah ambang batas minimum kecepatan untuk mentransport partikel tersebut.

Untuk dapat membentuk endapan plaser yang ekonomis¸ partikel mineral ekonomis harus memiliki densitas yang berbeda cukup besar dengan material gangue-nya. Dengan begitu, akan didapatkan akumulasi mineral ekonomis dalam konsentrasi yang tinggi.

Adapun Beach placers terbentuk oleh endapan pasir dan gravel di sepanjang tepi dari tubuh air yang besar, laut atau danau.

Dibalik Suatu Bencana Geologi

Jika kita mengamati alam dan lingkungan dengan seksama, maka akan dengan mudah kita pahami bahwa alam dilengkapi dengan seperangkat mekanisme hukum alam yang membuat alam itu sendiri dapat tetap lestari. Jika pada suatu tempat terjadi proses alamiah yang bersifat konstruktif, maka di bagian lain akan ada proses yang bersifat destruktif. Jika di suatu bagian terjadi peningkatan tekanan, maka di bagian lain akan terjadi proses pelepasan tekanan. Jika di suatu cekungan terjadi sedimentasi, maka di punggungan lain akan terjadi erosi. Begitu seterusnya hingga bumi terus mengalami proses penyeimbangan. Begitu pula dengan mekanisme bencana. Bencana alam merupakan salah satu mekanisme alamiah yang bertujuan untuk menyeimbangkan kondisi bumi, agar tetap lestari.

Sama juga dengan alam yang mencoba mempertahankan kondisi idealnya, manusia pun begitu. Manusia dilengkapi dengan naluri bertahan diri, mempertahankan eksistensi dirinya. Maka manusia merespon mekanisme alamiah ini dengan mengobservasi dan berusaha memprediksi saat terjadinya bencana alam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Zhang Heng, ilmuwan hebat dari Dinasti Han di Cina, pada 132 M ketika merancang suatu alat yang menjadi cikal bakal seismograf, yang ia gunakan untuk mengamati pergerakan gempabumi. Hasil observasi tersebut kemudian dijadikan landasan untuk memprakirakan kemungkinan lokasi terjadinya gempabumi di masa yang akan datang.

Berbagai macam data pengamatan bencana alam dijadikan referensi untuk memprediksi datangnya bencana alam. Mulai dengan mengamati secara subyektif dengan panca indera manusia, hingga di masa kini dengan data yang direkam oleh satelit, yang mampu mengumpulkan data kondisi atmosfer hingga pergerakan lempeng tektonik. Begitupun yang dilakukan oleh Kongres AS pada 1977 ketika mendirikan NEHRP (National Earthquake Hazards Reduction Program) yang ditujukan untuk mengurangi risiko nyawa dan harta benda akibat gempabumi yang terjadi di masa depan di Amerika Serikat melalui pembentukan dan pemeliharaan program pengurangan bahaya gempa yang efektif. Dengan adanya program ini diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang penyebab dan lokasi gempabumi akan terjadi, namun belum dapat diandalkan mengenai tanggal dan waktu gempabumi akan terjadi. Kesimpulannya, observasi dan analisis terhadap fakta yang diperoleh selama ini belum cukup untuk melakukan suatu prakiraan bencana yang akurat.

Tidak berhenti sampai disitu, sebab memprediksi dan memprakirakan terjadinya bencana saja tidak cukup untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan harta benda. Harus ada upaya untuk mengantisipasi dampak yang dihasilkan ketika bencana terjadi, maka dibuatlah mitigasi bencana. Dengan memahami cara kerja bencana alam dan memanfaatkan hukum-hukum alam untuk mengurangi efek negatif dari bencana tersebut. Ketika manusia telah memahami cara kerja suatu bencana alam, maka mereka akan selalu waspada dan dengan mudah mencari tempat perlindungan yang aman dari dampak negative bencana alam tersebut. Misalnya, dengan menjauh dari pusat erupsi gunungapi ketika terjadi erupsi, atau dengan berlindung di bawah meja ketika terjadi gempabumi. Begitu pula dengan desain-desain konstruksi yang dibangun dalam rangka mengurangi efek negatif bencana alam, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak memahami mekanisme alamiah dari bencana alam tersebut. Misalnya konstruksi sabo, yang berguna untuk melokalisir aliran lahar dari suatu gunungapi, dan konstruksi bangunan tahan gempa yang membuat gedung-gedung dapat bertahan lebih lama ketika terjadi gempabumi sehingga orang di dalamnya masih sempat untuk menyelamatkan diri keluar dari gedung tersebut.

Prakiraan dan mitigasi bencana memperlihatkan pada kita bahwa mekanisme alamiah dari bencana diantisipasi oleh manusia juga dengan memahami dan memanfaatkan hukum-hukum alam. Namun, yang perlu kita pahami, suatu bencana alam tidak dapat terjadi begitu saja. Ia memiliki penyebab-penyebab yang spesifik, suatu kondisi yang menyebabkan suatu bencana geologi layak, yang dalam pengamatan manusia sesuai dengan hukum alam. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa ada penyebab tersebut dan mengapa penyebab itu terjadi pada waktu tertentu? Hal ini yang belum terjawab oleh manusia. Bahkan jika kita bertanya lebih jauh lagi, mengapa harus ada hukum alam? Terhadap pertanyaan ini, manusia hanya dapat menjawab sebatas mekanismenya saja.

Dengan memahami hakikat bencana alam serta hukum alam yang bekerja pada fenomena tersebut, dapat kita sadari bahwa manusia sesungguhnya merupakan makhluk yang terbatas. Manusia bahkan hanya bagian yang sangat kecil dari komponen alam semesta. Alam semesta yang memiliki keteraturan luar biasa, hingga dapat bertahan sejak Big Bang 14 milyar tahun yang lalu merupakan bukti sahih bahwa hukum alam bukanlah suatu hasil proses acak, sebagaimana yang dijadikan dalih oleh para penganut materialisme.

Bencana dan kondisi geologi mengajari kita, bahwa segala yang ada di alam semesta ini memiliki keteraturan yang sungguh sangat rapi. Dapat kita amati bagaimana persebaran gunungapi serta zona rawan gempabumi tersebar secara rapi di batas-batas lempeng tektonik. Bagaimana pula kekuatan bencana alam yang superdahsyat dapat meluluhlantakkan peradaban manusia, yang bahkan proses yang destruktif ini terjadi dengan sangat teratur. Gempabumi diawali dengan foreshock dan diakhiri dengan aftershock. Erupsi gunungapi yang tiap gunung memiliki karakteristik erupsi yang berbeda-beda. Sehingga manusia pun dapat menemukan suatu pola keteraturan hingga dapat beradaptasi dengan bencana dan meminimalisir dampak negatifnya. Jika kita cermat memahami realitas ini, maka kita akan sampai pada suatu pertanyaan: Siapa yang membuat alam semesta ini sedemikian teraturnya? Jika kita menjawabnya, dengan hukum alam, maka pertanyaannya akan berlanjut, siapa yang memformulasikan hukum alam ini hingga semuanya menjadi sangat pas? Sampai disinilah batas manusia. Manusia tidak dapat menjelaskan jawaban dari pertanyaan itu. Pada kondisi seperti ini, manusia akan memahami bahwa sesungguhnya ada suatu subjek yang mempunyai kewenangan dalam mengatur seluruh mekanisme alamiah ini, yang kita sebut sebagai Sang Pencipta (The Creator).

Oleh karena itu, adalah suatu kepastian bahwa dalam proses berawalnya alam semesta hingga saat ini bisa kita amati, melibatkan suatu desain yang Mahasempurna dan Mahatepat. Adanya penciptaan yang disengaja dan direncanakan oleh Sang Pencipta. Hal ini menjadi kesimpulan umum para ilmuwan, termasuk ilmuwan yang berpaham materialisme yang tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Sebagian materialis bertindak dengan lebih menggunakan akal sehat mengenai hal ini. Materialis Inggris, H. P. Lipson menerima kebenaran penciptaan, meskipun ‘tidak dengan senang hati’, ketika dia berkata:

Jika materi hidup bukan disebabkan oleh interaksi atom-atom, kekuatan alam, dan radiasi, bagaimana dia muncul? …. Namun, saya pikir, kita harus …. Mengakui bahwa satu-satunya penjelasan yang bisa diterima adalah penciptaan. Saya tahu bahwa ini sangat dibenci para ahli fisika, demikian pula saya, namun kita tidak boleh menolak apa yang tidak kita sukai jika bukti ekspiermental mendukungnya”.

Ini adalah kesimpulan yang seharusnya dibuat oleh manusia ketika mengamati semua fenomena alam yang dapat mereka indera di dunia ini. Ada satu hal yang kita dapat ketika kita menyingkirkan semua kemungkinan jawaban yang ada, walaupun kenyataan ini mungkin sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sains: “Sang Pencipta mutlak adanya”. God does exist, or should I say: God must exist!

Piktograf

Anda pernah menonton film The Croods? Film tersebut menceritakan tentang satu keluarga manusia gua, yang kemudian bertemu dengan seorang manusia cerdas, dan memperoleh banyak pengetahuan baru tentang cara bertahan hidup. Dalam film itu diceritakan keluarga Grug sering mendengarkan cerita yang dibawakan oleh Grug sendiri sebagai kepala keluarga. Ia menggunakan media dinding gua untuk menggambarkan ceritanya. Dengan menggambar di dinding gua. Nah, gambar atau lukisan tersebut disebut Piktograf.

Piktograf ialah gambar atau lukisan yang dibuat di atas batu. Piktograf tidak sama dengan ukiran pada batuan (petroglif). berikut ini adalah beberapa foto piktograf yang ditemukan di gua-gua di seluruh dunia yang diperkirakan merupakan tempat tinggal hominid ribuan tahun lalu sebelum masa manusia modern, yang kemungkinan salah satunya adalah gambar hasil karya Grug 🙂

1. Cave of the Hands, Argentina
Cueva de las Manos (Bahasa Spanyol dari Cave of the Hands) adalah deretan gua-gua di Argentina yang di dalamnya terdapat gambar karya manusia purba yang berumur sekitar 9000 tahun yang lalu. Dinding gua di foto berikut merupakan salah satu dari dinding gua yang tergambar oleh siluet tangan. Diperkirakan gambaran siluet tangan tersebut dibuat dengan menempelkan tangan pada dinding kemudian disemprotkan semacam cairan ke atas tangan. Cueva de las Manos saat ini sudah termasuk ke dalam UNESCO World Heritage Site. Image by edurivero © iStockphoto.com.

Tidak semua gambar di gua ini berupa siluet tangan. Ditemukan juga beberapa gambar berupa desain geometri, hewan, pemburu, dan senjata. Zat warna yang digunakan ialah oksida besi (merah), kaolin (putih), natrojarosite (kuning), dan oksida mangan (hitam). Image by edurivero © iStockphoto.com.

2. Ontario, Canada
“Two Figures” dari piktograf di Agawa Rock, Lake Superior Provincial Park, Ontario, Canada. Image by David Lewis © iStockphoto.com.

3. Canyon de Chelly, Arizona
Piktograf dan petroglif karya manusia Amerika di Canyon de Chelly National Monument. Image by Karen Parker © iStockphoto.com.

4. Aruba
Piktograf purba di sebuah gua di pulau Aruba. Image by zinchik © iStockphoto.com.

5. Namibia
Piktograf tentang suku bushmen dari Gurun Namibia. Image by Jan Derksen © iStockphoto.com.

6. Australia
Piktograf Aborigin yang dibuat oleh manusia Gagudju, Australia Utara. Gambar ini diyakini berumur 5000 tahun. Image by Matthew Scherf © iStockphoto.com.

7. Afrika Selatan
Piktograf pada sebuah dinding batu di Drakensberg, Afrika Selatan. Image by Henk Badenhorst © iStockphoto.com.

Gambar pemburu pada dinding gua di Cedeberg, Afrika Selatan. Gambar ini diperkirakan berumur 1500 tahun. Image by skilpad © iStockphoto.com.

8. Brazil
Piktograf yang dilukis pada gua Monte Alegre, Brazil. Image by Brasil2 © iStockphoto.com.


9. Utah
Piktograf yang menunjukkan orang-orang Fremont, dan kebudayaannya. Image by Andrea Gingerich © iStockphoto.com.

Piktograf tangan orang Amerika asli, di Canyonlands National Park, Utah, AS. Image by Andrea Gingerich © iStockphoto.com.

10. British Columbia, Kanada
Piktograf yang dilukis di tebing dekat Danau Vaseux, British Columbia, Kanada. Image by Laure Neish © iStockphoto.com.

11.  Meksiko
Piktograf di Meksiko. Image by Juan Rodriguez © iStockphoto.com.

12. Nevada
Piktograf yang dibuat oleh orang asli Amerika di Red Rock Canyon, Nevada, AS. Image by Robert Maxwell © iStockphoto.com.

Sumber: http://geology.com/articles/petroglyphs/more-pictographs.shtml

Pulau Baru untuk Jepang

Wilayah Jepang bertambah luas dengan terbentuknya gunungapi yang menjadi pulau baru sekitar 900 km di selatan Tokyo.

Pulau tersebut berdiameter sekitar 200 m, berdasarkan laporan pengawas pantai Jepang. Pualu baru tersebut berdekatan dengan pesisir pulau Nishinoshima, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu anggota dari Kepulauan Bonin, atau rangkaian pulau Ogasawara.

Yoshihide Suga, mewakili pemerintah Jepang menyatakan bahwa mereka akan menunggu berapa lama pulau tersebut dapat bertahan di permukaan, baru kemudian akan memberi nama pulau tersebut. Sebab pulau yang baru akan cenderung tenggelam kembali dalam waktu singkat ketika menerima hempasan gelombang.

“Jika pulau tersebut bisa tumbuh menjadi sebuah pulau yang sempurna, maka kami akan sangat bahagia mendapatkan tambahan luas territorial,” Suga menanggapi pertanyaan pres.
Kamis (21/11), pengawas pesisir Jepang merilis video terkait pulau baru tersebut, yang tertutupi oleh gulungan asap dan uap air. Video tersbut menunjukkan debu dan blok vulkanik yang dierupsikan keluar dari kawah di dekat permukaan laut.

Hiroshi Ito, ahli volkanologi, menyatakan bahwa masih belum bisa dipastikan apakah pulau tersebut akan menjadi pulau yang permanen atau akan kembali tenggelam di bawah permukaan laut.

Jepang sendiri merupakan suatu deretan kepulauan dari ribuan pulau, meskipun sebagian besar penduduk Jepang tinggal di pulau yang paling besar. Jepang sangat dikenali dengan aktivitas vulkanik dan kegempaan yang sangat tinggi, dan juga merupakan salah satu rangkaian dari rangkaian besar Cincin Api (Ring of Fire), yang mengelilingi sebagian besar dari Samudera Pasifik.

Secara tektonik, daerah yang aktif di Cincin Api ini ialah pesisir timur Asia dan sisi barat Amerika Utara dan Selatan. Cincin Api ini juga yang memicu erupsi vulkanik besar di St. Helens di Washington dan Pinatubo di Filipina.

Adapun gunungapi yang membentuk pulau termuda dari Jepang, terakhir bererupsi pada pertengahan 1970-an, di sepanjang Palung Ogasawara-Mariana.
Sumber: http://news.nationalgeographic.com/news/2013/11/131121-japan-volcano-new-island-eruption-science/

Hukum Ilmiah

Hukum ilmiah ialah prinsip-prinsip dasar yang menggambarkan perilaku alam tertentu yang umumnya berlaku dalam skala kecil dan dapat dinyatakan dengan singkat, biasanya dengan persamaan matematika sederhana. Karena hukum ini sering terbukti dan teramati berkali-kali secara konsisten dalam pengamatan dan pengukurannya, maka hukum sangat jarang untuk ditolak. Namun begitu, hukum tetap harus mengalami modifikasi untuk menyesuaikannya dengan penemuan fakta yang baru. Misalnya, Hukum Gerak Newton saat ini masih berlaku dalam kehidupan sehari-hari (NASA menggunakannya untuk mengkalkulasi trayektori satelit), namun hukum ini tidak berlaku pada objek dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Untuk kasus ini, maka yang berlaku ialah Teori Relativitas Einstein.

Hubungan Antara Organisme Planktonik dan pH Air Laut

Lautan, mendukung populasi yang besar dari organisme sel tunggal (fitoplankton), untuk mengurangi karbondioksida di atmosfer yg diproduksi dari pembakaran bahan bakar fosil, melalui mekanisme fotosintesis oleh organisme tersebut. Satu jenis fitoplankton, yaitu kokolitofora, diketahui ialah organisme yang memiliki kemampuan untuk membentuk lempengan kapur (kalsium karbonat) dalam selnya, yang disekresikan untuk membentuk semacam pelindung di permukaan selnya. Dalam skala global, proses kalsifikasi berpengaruh secara spesifik terhadap kadar karbon di permukaan laut, dan kokolitofora ialah komponen penting dalam siklus karbon global, ketika sel-sel tubuhnya yang mati dan kalsium karbonat tenggelam dan menjadi sedimen laut.
 
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam PLoS Biology 21 Juni, sebuah tim ilmuan dari Marine Biological Association dan Plymouth Marine Laboratory di Inggris dan University of North Carolina Wilmington, AS melapurkan sebuah temuan yang tidak terduga bahwa kokolitofora menggunakan mekanisme yang mirip dengan sel hewan vertebrata dalam memfasilitasi kalsifikasi. Mereka menemukan bahwa proses ini dapat langsung dipengaruhi oleh semakin tingginya tingkat karbon dioksida yang terlarut dalam lautan.
 
Lempengan pelindung dari kokolitofora dibentuk oleh pengangkutan kalsium dan bikarbonat ke dalam sel di mana mereka bergabung untuk membentuk kalsium karbonat. Kalsifikasi adalah proses yang sangat tergantung oleh pH dan kemungkinan akan terpengaruh oleh peningkatan kadar karbon dioksida yang membuat laut semakin asam. Para peneliti menggunakan kombinasi dari fisiologi sel tunggal dan biologi molekuler untuk mengidentifikasi mekanisme molekuler yang mendasari proses kalsifikasi. Sebuah produk sampingan dari reaksi kalsifikasi adalah pembentukan proton (H+) di dalam sel. “Ion-ion H+ berpotensi dapat terakumul asi dalam sel dan menyebabkan sel menjadi asam – sebuah proses yang dikenal sebagai asidosis metabolik” kata Alison Taylor, penulis artikel. Sel menggunakan berbagai proses yang dapat mengatur pH untuk meringankan beban ion H+ yang berlebihan. Tim ini menunjukkan bahwa kokolitofora membuang H+ yang tidak diperlukan dengan membiarkannya untuk keluar sel melalui pori-pori protein khusus, atau saluran ion, yang selektif permeabel terhadap ion H+. Proses ini membuat pH di dalam sel-sel pada tingkat yang dapat diterima dan memungkinkan kokolitofora untuk menghasilkan lempengan kalsium karbonat.
 
Tim mengidentifikasi gen pada saluran yang dilalui protein. “saluran Ini merupakan jenis transportasi unik dari protein yang ditemukan baru-baru ini dalam beberapa jenis sel hewan yang mengalami asidosis metabolik” jelas Glen Wheeler, penulis dalam penelitian. “Ternyata bahwa gen saluran ini juga ada dalam kelompok-kelompok lain dari fitoplankton yang tidak memiliki kaitan erat dengan tanaman atau hewan manapun. Penemuan kami menunjukkan bahwa saluran ini lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya dan bahwa mereka melayani fungsi penting dalam meregulasi pH sel selama berbagai proses seluler dalam organisme yang telah mengalami proses evolusi yang jauh” kata Wheeler.
 
“Temuan kunci dari penelitian ini adalah bahwa aktivitas saluran H+ di kokolitofora tergantung pada pH eksternal” jelas Colin Brownlee, dari Marine Biological Association. “Temuan ini akan memungkinkan pemahaman lebih baik tentang bagaimana fitoplankton merespon perubahan kimia laut akibat peningkatan pelarutan karbon dioksida dari atmosfer di permukaan air laut.” (sciencedaily.com)

Prediksi Gempabumi

Gempa jepang yang terjadi pada 11 maret 2011dengan Mw 9,0 yang setara dengan energi 475 megaton TNT, berepisentrum di sendai, konon katanya sudah diprediksi oleh para ahli seismologi di jepang. Begitu pula dengan kemungkinan akan terjadinya gelombang tsunami. Berbagai macam tindakan antisipasi juga sudah dilakukan. salah satunya dengan mengamankan reactor nuklir yang ada di fukushima dengan membangun tembok penghalang setinggi 5 meter.

Tapi, mengapa tetap terjadi suatu kekacauandan korban yang banyak, serta yang popular dibidarakan ialah tentang bocornya reactor nuklir fukushima? Ternyata yang menjadi masalah ialah karena prediksinya kurang akurat. Para ahli memprediksikan akan terjadi gempa bumi dengan magnitude maksimum 8 SR. namun, nyatanya yang terjadi ialah 9,0 SR. memang seperti terlihat hanya beda sedikit saja kan. Sebenarnya itu perbedaan yang sangat besar. Karena besaran magnitude setap kenaikan satu satuan naiknya secara eksponensial. Jadi, 9 SR memiliki energy yang 10 kali lebi besar disbanding 8 SR.

Kesalahan prediksi pula menyebabkan kesalahan dalam menebak perkiraan mengenai gelombang tsunami yang akan terjadi. Berdasarkan perhitungan, gelombang tsunami yang akan sampai ke daratan tempat adanya reactor nuklir tersebut tidak akan sampai melebihi ketinggian 5 m. sehingga mereka sudah membangun tembok penghalang setinggi 5 m. namun, apa mau dikata, dengan magnitude gempa yang berbeda, ketinggian gelombang tsunami pun jadi berbeda. Sehingga reactor nuklir fukushima pun tidak dapat terhindarkan untuk ‘berjumpa’ dengan gelombang tsunami yang berenergi tinggi tersebut.

Sekarang, mari kita tengok. Kenapa sih sampai terjadi kesalaan dalam prediksi gempa? Dalam ilmu ‘nujum’ memprediksi gempa, hal-hal yang diperhatikan ialah kondisi geologi daerah, dan sejarah gempa yang terjadi pada daerah tersebut.

Pertama, kondisi geologi digunakan untuk membuat model daerah, dan dengan data-data seismic dan segala macam sifat fisis yang terus diperbarui, misalkan adanya kompresi di titik X dan ekstensi di titik Y, kemudian disajikan dalam model geologi daerah. Sehingga dapat terlihat kemungkinan di mana akan terjadinya focus gaya yang besar dan dapat mengakibatkan pelepasan energy dan berujung pada gempa bumi. Kendala dari metode ini ialah, model yang dibuat tidaklah sama 100% dengan kondisi geologi yang sebenarnya. Banyak asumsi-asumsi yang digunakan karena data-data yang dimiliki belum memenuhi untuk membuat model yang benar-benar sama dengan real-nya. Nah, asumsi-asumsi inilah kemungkinan yang menjadi penyebab adanya error dalam menebak kekuatan, lokasi focus, dan waktu terjadinya gempa bumi.

Kedua, sejarah gempa bumi di suatu daerah juga bisa dijadikan acuan dalam menentukan prediksi gempa. Sebab, dengan mengetahui sejarah gempa-gempa yang terjadi di suatu daerah, kita dapat mengetahui bagaimana karakteristik daerah tersebut ketika terjadi gempa. Entah kekuatannya, sifat penjalaran gelombangnya, dan lain sebagainya. Kasus gempa di Jepang, tidak pernah ditemukan data yang menyatakan terjadi gempa dengan magnitude di atas 8 SR. sehingga dengan percaya diri para ahli menyatakan bahwa maksimum magnitude yang terjadi ialah 8 SR. masalahnya terletak pada data yang dipunyai oleh si predictor. Mungkin data yang dimiliki berkata demikian. Namun, kejadian gempa sebelum perekaman data tidak ada yang tau, apakah pernah terjadi gempa di atas 8 SR. karena sepanjang apapun deretan data yang kita miliki, tidak akan lebih panjang dari umur bumi.

Begitulah, ilmu prediksi gempa ialah ilmu yang sudah ada metodenya, namun belum bisa terpakai secara optimal. Masih banyak hal-hal yang perlu untuk dikoreksi.